CUMA KHAYALAN BELAKA!
March 29th, 2009 by theword“Kak?”
“Ya?” sahutku enggan sambil terus menatap kelamnya langit hari ini.
“Uhmm, kakak punya impian tidak?” tanyanya ragu.
“Di kepalaku sekarang yang tersedia cuma mimpi-mimpi yang rasanya tidak semuanya akan menjadi kenyataan, Dee. Ada apa? Kok pertanyaanmu serius begitu?” jawabku sekenanya.
Dee yang berbaring di sebelahku menghela nafas panjang. Aku terenyuh.
“Memangnya kamu punya impian?”
Ia terdiam sejenak. Aku melihat air mata mengalir perlahan dari kedua sudut matanya, jatuh menuruni pipi tirusnya yang berwarna gelap karena terbakar matahari. Aku terhanyut dalam perasaannya karena melihat air mata itu. Aku menyentuh lengannya dan bertanya sekali lagi.
“Mimpimu pasti besar sekali ya….sampai menangis seperti ini. Kuatir tidak menjadi kenyataan ya, Dee?”
Ia tersenyum di sela tangisnya yang nyaris tak bersuara. Aku terperangah dalam diam.
“Aku ingin punya Handphone,” katanya pendek.
Apa?! Cuma ingin punya benda mati berharga ratusan ribu itu saja kamu sebut itu mimpi?! Kamu aneh!
“Kamu masih waras, kan?” selaku agak kesal. “Ambil punyaku aja! Aku bosan ditelepon orang atau dikirimi pesan bernada perintah. Aku capek disuruh ini itu! Kalau aku tidak punya handphone, semua orang pasti maklum kenapa aku tidak bisa dihubungi!”
Ia tertawa kecil. Nadanya sumbang. Tak enak didengar.
“Aku ingin punya handphone yang bisa memutar lagu dan ada radionya. Aku ingin dengar lagu gereja. Sudah lama aku tidak mendengar lagu gereja. Aku kangen,” sahutnya polos.
Aku terkesima. Kupikir kalau cuma ingin dengar lagu gereja, pergi ke gereja aja minggu ini denganku. Untuk apa beli handphone dengan fasilitas radio di dalamnya?!
“Hanya itu?”
“Aku ingin punya nomor telepon pendeta yang kemarin berkhotbah di KKR itu,” gumamnya.
Oh. Ko Philip, maksudnya. Aku kehilangan kata-kata terbaikku. Aku punya nomor teleponnya, kalau saja ia mau memintanya. Tetapi handphone-nya? Apa dia mau memakai handphone yang bekas kupakai? Aku terdiam dalam lamunan.
“Impian kakak apa?”
Aku tersedak. Ampun deh! Sudah terlanjur melamun ke mana-mana, dia mengagetkanku dengan pertanyaannya. Aku bangun dan duduk bersila sambil menatap langit.
“Uhhmmm…..ingin punya kamera digital yang bisa motret bintang atau apapun dalam gelap. Aku ingin lihat kebesaran Tuhan di sana….di dalam kerlip bintang atau senyum bulan. Aku yakin ada Tuhan di sana. Ah, sayang cuma mimpi….,” desahku kecewa.
“Kakak kan sudah kerja. Beli dengan cara mencicil saja!”
Aku tahu itu! Masalahnya aku sedang mencicil “kesalahan orang lain”! Cicilannya baru lunas Oktober tahun ini! Nah, kan?! Bagaimana mungkin aku bisa membelinya sekalipun dengan cara mencicil?! Giliran aku yang menangis sekarang. Jujur, aku merasa kalah dan dikalahkan oleh sesuatu. Entah itu keadaan, teman atau situasi….Aku merasa kelelahan yang luar biasa menyergapku. Aku terisak dalam keheningan malam.
“Kak? Ada apa? Apa ideku tadi menyinggung perasaan kakak?”
Aku berbalik menatapnya dalam tangisku.
“Aku tak punya uang untuk membeli kamera itu sekarang!” keluhku dalam isak tangisku.
“Oh.”
Seandainya kesalahan kecil itu tak ada…aku bisa membeli kamera itu tahun ini dengan cara mencicil. Ah, yang lebih menyakitkan lagi adalah teman satu timku menolak bertanggung jawab atas kesalahan yang ia buat. Maka jadilah aku “pahlawan kesiangan” yang membayar “kesalahan orang lain”. Aku jadi memahami perasaan Yesus di Getsemani. Aku merasa terjepit situasi. Jika aku bersikeras tidak membayarnya, aku bisa membeli kamera itu….tetapi kehilangan integritasku.
“Kalau kakak nantinya punya kamera itu…”
“Aku ingin motret Ko Philip. Aku ingin buat foto biografi buat dia. Waktu aku menulis buku biografinya dulu, aku bukan siapa-siapa. Tidak tahu mau menulis apa dan harus memulainya dari mana. Tidak suka membaca buku biografi juga. Aku lagi belajar fotografi. Aku yakin aku bisa membuat foto biografinya jauh lebih bagus dan berbicara dari pada bukunya,” kataku lirih.
Karena itu kusebut ideku itu “mimpi besar sianne”. Tidak akan pernah jadi kenyataan sepertinya! Sedetik itu juga ingatanku melayang ke reaksi orang-orang di kantor ketika aku pulang dari Taiwan Februari 2007. Aku bergidik ngeri. Itu awal dari mimpi burukku di sini. Sejak saat itu orang-orang menjadi sangat terlalu baik kepadaku. Padahal biasanya tidak begitu. Aneh, kan?! Tetapi…ada satu komentar yang memacuku untuk menulis lebih baik hari ini. Orang itu berpikir bahwa tulisanku tidak cukup bagus untuk membawaku ke Taiwan. Menurutnya, faktor yang membuat buku yang kutulis diterima banyak orang di mana-mana adalah “Faktor X di buku itu” , yaitu Ko Philip. Ops! Iya, tah?! Baguslah! Kalau begitu aku tidak akan pernah bicara tentang “Before 30” lagi. Suatu hari nanti orang itu akan kupaksa menelan kata-katanya sendiri ketika ia melihat bukuku diterima oleh pembacanya sebagai “Sianne style”, tanpa Ko Philip di dalamnya!
“Kak?! Kok melamun sih?!”
Astaga! Maaf…Aku melupakan kehadiranmu.
“Hanya itu?” ia mengulang pertanyaanku kepadanya. Dasar!
“Aku ingin membuat majalah untuk 10 orang berprestasi di Indonesia. Mereka harus Kristen! Dari olahragawan, pebisnis, direktur, manajer penjualan atau pemasaran, seniman atau siapa saja. Aku akan memotret prestasi mereka dengan kamera itu! Waahhh, pasti luar biasa!” sambungku antusias. Air mataku hilang seketika.
“Kakak hebat! Aku senang bisa mengenal kakak…”
Ia memelukku. Aku terpana. Hebat? Majalahnya kan belum terbit? Cuma khayalan belaka?! Apanya yang hebat?
“Tahu tidak…kalau kakak itu terkenal?”
Aku terbahak. Aku? Terkenal? Hehehe…Yang terkenal itu Sianne, penulis bukunya Ko Philip! Bukan aku! Kalau mereka berhadapan muka dengan muka denganku, kita masih harus kenalan kok! Iya, kan?! Sampai hari ini pun masih ada orang yang bertanya kepadaku begini,”Kamu suka menulis yah? Bantu Philip sana! Dia cuma punya satu penulis dan itu pun bukunya cuma 2 doang! Kalau kamu bisa bantu Philip menulis, pasti banyak buku tentang dia yang lahir dan memberkati anak-anak muda di mana-mana!” Hehehe…
“Kak…penulis itu ‘kan yang dibaca tulisannya, bukan hidupnya. Penulis itu ‘kan yang dikenal adalah karyanya, bukan orangnya…”
Aku menatapnya takjub! Akhirnya ada juga orang yang bicara bijak dan masuk akal seperti itu kepadaku! Aku tersenyum.
“Thanks yah…kata-katamu tidak menunjukkan kamu berasal dari mana. Aku sering berhadapan dengan orang pintar dan berpendidikan, tetapi kata-katanya jauh dari kata-katamu tadi. Yang kudengar dari mereka cuma kritikan, sindiran yang mereka tuangkan di artikel-artikel yang beredar di internet dengan tujuan melegalkan pendapat mereka tentang sesuatu yang belum tentu benar! Tujuannya cuma satu: MENUNJUKKAN SISI MANUSIANYA YANG PALING TIDAK MASUK AKAL DALAM KEMASAN PENGETAHUAN! Sesama pencemooh akan menganggapnya pintar dan berakal budi. Buat aku, dia tidak sedang bicara dengan manusia lain kecuali dengan dirinya sendiri! Dia lupa kalau dia juga punya kelemahan yang sama!”
Dee tertawa.
“Kapan-kapan aku mau mengumpulkan uang buat kamu. Kamu harus sekolah lagi! Ingat yah, kamu bisa pakai mimbar siapa pun untuk berbicara satu hal…kalau mereka tahu kamu berasal dari mana, mereka akan menutup telinga mereka. Tetapi, jika mereka tahu kamu siapa dan berasal dari mana, sekalipun kamu bicara hal yang sama sekali tidak benar, mereka menganggap itu perintah untuk dijalankan! Mereka menganggap kamu benar dalam segala hal! Manusia masih melihat rupa, sekalipun ia rohaniwan! Cuma Tuhan yang melihat hati!” jelasku kepadanya.
Dee terlalu miskin untuk mengerti bahwa dunia yang ia jalani tidak bisa dipahami. Dee terlalu bodoh untuk memahami bahwa di gereja pun masih banyak orang Kristen yang gagal menjalani kekristenannya! Dee kembali ke jalanan dan melupakan pertobatannya karena pendeta yang menjadikannya Kristen waktu itu pergi dan membuka gereja baru, entah di mana. Sekarang ia belajar untuk mengampuni mereka setelah kembali dari KKR waktu itu. Namanya juga belajar, kadangkala Dee gagal untuk menerima kenyataan pahit bahwa masih banyak orang Kristen di gereja yang menabrak aturan demi tujuan mereka tercapai.
Dee terlalu polos untuk tahu mana yang benar dan mana yang salah. Ketika ia diminta untuk berbuat lebih kepada sesamanya, ia selalu bertanya,”Apa saya dibayar untuk melakukan pekerjaan itu?” Dee tidak terlalu rohani dalam banyak hal, jadi reaksinya kumaklumi. Sayangnya, di gereja banyak kutemui “tipikal seperti DEE” yang mau melayani kalau dibayar lebih. Aku jadi memahami perasaan Yesus di Getsemani. Ia tidak sendirian di sana. Ia ditemani 3 orang muridNya. Hanya saja, ketika Yesus berdoa…mereka tidur.
Ditulis untuk orang-orang seperti “Dee”
Kamar sepi hari ini, pk. 03.10 am
“Orang yang mengritik kamu hari ini adalah orang yang tidak kenal kamu 10 tahun lagi dari sekarang!”—sianne ribkah M.H