CUMA KHAYALAN BELAKA!

March 29th, 2009 by theword

“Kak?”

“Ya?” sahutku enggan sambil terus menatap kelamnya langit hari ini.

“Uhmm, kakak punya impian tidak?” tanyanya ragu.

“Di kepalaku sekarang yang tersedia cuma mimpi-mimpi yang rasanya tidak semuanya akan menjadi kenyataan, Dee. Ada apa? Kok pertanyaanmu serius begitu?” jawabku sekenanya.

Dee yang berbaring di sebelahku menghela nafas panjang. Aku terenyuh.

“Memangnya kamu punya impian?”

Ia terdiam sejenak. Aku melihat air mata mengalir perlahan dari kedua sudut matanya, jatuh menuruni pipi tirusnya yang berwarna gelap karena terbakar matahari. Aku terhanyut dalam perasaannya karena melihat air mata itu. Aku menyentuh lengannya dan bertanya sekali lagi.

“Mimpimu pasti besar sekali ya….sampai menangis seperti ini. Kuatir tidak menjadi kenyataan ya, Dee?”

Ia tersenyum di sela tangisnya yang nyaris tak bersuara. Aku terperangah dalam diam.

“Aku ingin punya Handphone,” katanya pendek.

Apa?! Cuma ingin punya benda mati berharga ratusan ribu itu saja kamu sebut itu mimpi?! Kamu aneh!

“Kamu masih waras, kan?” selaku agak kesal. “Ambil punyaku aja! Aku bosan ditelepon orang atau dikirimi pesan bernada perintah. Aku capek disuruh ini itu! Kalau aku tidak punya handphone, semua orang pasti maklum kenapa aku tidak bisa dihubungi!”

Ia tertawa kecil. Nadanya sumbang. Tak enak didengar.

“Aku ingin punya handphone yang bisa memutar lagu dan ada radionya. Aku ingin dengar lagu gereja. Sudah lama aku tidak mendengar lagu gereja. Aku kangen,” sahutnya polos.

Aku terkesima. Kupikir kalau cuma ingin dengar lagu gereja, pergi ke gereja aja minggu ini denganku. Untuk apa beli handphone dengan fasilitas radio di dalamnya?!

“Hanya itu?”

“Aku ingin punya nomor telepon pendeta yang kemarin berkhotbah di KKR itu,” gumamnya.

Oh. Ko Philip, maksudnya. Aku kehilangan kata-kata terbaikku. Aku punya nomor teleponnya, kalau saja ia mau memintanya. Tetapi handphone-nya? Apa dia mau memakai handphone yang bekas kupakai? Aku terdiam dalam lamunan.

“Impian kakak apa?”

Aku tersedak. Ampun deh! Sudah terlanjur melamun ke mana-mana, dia mengagetkanku dengan pertanyaannya. Aku bangun dan duduk bersila sambil menatap langit.

“Uhhmmm…..ingin punya kamera digital yang bisa motret bintang atau apapun dalam gelap. Aku ingin lihat kebesaran Tuhan di sana….di dalam kerlip bintang atau senyum bulan. Aku yakin ada Tuhan di sana. Ah, sayang cuma mimpi….,” desahku kecewa.

“Kakak kan sudah kerja. Beli dengan cara mencicil saja!”

Aku tahu itu! Masalahnya aku sedang mencicil “kesalahan orang lain”! Cicilannya baru lunas Oktober tahun ini! Nah, kan?! Bagaimana mungkin aku bisa membelinya sekalipun dengan cara mencicil?! Giliran aku yang menangis sekarang. Jujur, aku merasa kalah dan dikalahkan oleh sesuatu. Entah itu keadaan, teman atau situasi….Aku merasa kelelahan yang luar biasa menyergapku. Aku terisak dalam keheningan malam.

“Kak? Ada apa? Apa ideku tadi menyinggung perasaan kakak?”

Aku berbalik menatapnya dalam tangisku.

“Aku tak punya uang untuk membeli kamera itu sekarang!” keluhku dalam isak tangisku.

“Oh.”

Seandainya kesalahan kecil itu tak ada…aku bisa membeli kamera itu tahun ini dengan cara mencicil. Ah, yang lebih menyakitkan lagi adalah teman satu timku menolak bertanggung jawab atas kesalahan yang ia buat. Maka jadilah aku “pahlawan kesiangan” yang membayar “kesalahan orang lain”. Aku jadi memahami perasaan Yesus di Getsemani. Aku merasa terjepit situasi. Jika aku bersikeras tidak membayarnya, aku bisa membeli kamera itu….tetapi kehilangan integritasku.

“Kalau kakak nantinya punya kamera itu…”

“Aku ingin motret Ko Philip. Aku ingin buat foto biografi buat dia. Waktu aku menulis buku biografinya dulu, aku bukan siapa-siapa. Tidak tahu mau menulis apa dan harus memulainya dari mana. Tidak suka membaca buku biografi juga. Aku lagi belajar fotografi. Aku yakin aku bisa membuat foto biografinya jauh lebih bagus dan berbicara dari pada bukunya,” kataku lirih.

Karena itu kusebut ideku itu “mimpi besar sianne”. Tidak akan pernah jadi kenyataan sepertinya! Sedetik itu juga ingatanku melayang ke reaksi orang-orang di kantor ketika aku pulang dari Taiwan Februari 2007. Aku bergidik ngeri. Itu awal dari mimpi burukku di sini. Sejak saat itu orang-orang menjadi sangat terlalu baik kepadaku. Padahal biasanya tidak begitu. Aneh, kan?! Tetapi…ada satu komentar yang memacuku untuk menulis lebih baik hari ini. Orang itu berpikir bahwa tulisanku tidak cukup bagus untuk membawaku ke Taiwan. Menurutnya, faktor yang membuat buku yang kutulis diterima banyak orang di mana-mana adalah “Faktor X di buku itu” , yaitu Ko Philip. Ops! Iya, tah?! Baguslah! Kalau begitu aku tidak akan pernah bicara tentang “Before 30” lagi. Suatu hari nanti orang itu akan kupaksa menelan kata-katanya sendiri ketika ia melihat bukuku diterima oleh pembacanya sebagai “Sianne style”, tanpa Ko Philip di dalamnya!

“Kak?! Kok melamun sih?!”

Astaga! Maaf…Aku melupakan kehadiranmu.

“Hanya itu?” ia mengulang pertanyaanku kepadanya. Dasar!

“Aku ingin membuat majalah untuk 10 orang berprestasi di Indonesia. Mereka harus Kristen! Dari olahragawan, pebisnis, direktur, manajer penjualan atau pemasaran, seniman atau siapa saja. Aku akan memotret prestasi mereka dengan kamera itu! Waahhh, pasti luar biasa!” sambungku antusias. Air mataku hilang seketika.

“Kakak hebat! Aku senang bisa mengenal kakak…”

Ia memelukku. Aku terpana. Hebat? Majalahnya kan belum terbit? Cuma khayalan belaka?! Apanya yang hebat?

“Tahu tidak…kalau kakak itu terkenal?”

Aku terbahak. Aku? Terkenal? Hehehe…Yang terkenal itu Sianne, penulis bukunya Ko Philip! Bukan aku! Kalau mereka berhadapan muka dengan muka denganku, kita masih harus kenalan kok! Iya, kan?! Sampai hari ini pun masih ada orang yang bertanya kepadaku begini,”Kamu suka menulis yah? Bantu Philip sana! Dia cuma punya satu penulis dan itu pun bukunya cuma 2 doang! Kalau kamu bisa bantu Philip menulis, pasti banyak buku tentang dia yang lahir dan memberkati anak-anak muda di mana-mana!” Hehehe…

 “Kak…penulis itu ‘kan yang dibaca tulisannya, bukan hidupnya. Penulis itu ‘kan yang dikenal adalah karyanya, bukan orangnya…”

Aku menatapnya takjub! Akhirnya ada juga orang yang bicara bijak dan masuk akal seperti itu kepadaku! Aku tersenyum.

“Thanks yah…kata-katamu tidak menunjukkan kamu berasal dari mana. Aku sering berhadapan dengan orang pintar dan berpendidikan, tetapi kata-katanya jauh dari kata-katamu tadi. Yang kudengar dari mereka cuma kritikan, sindiran yang mereka tuangkan di artikel-artikel yang beredar di internet dengan tujuan melegalkan pendapat mereka tentang sesuatu yang belum tentu benar! Tujuannya cuma satu: MENUNJUKKAN SISI MANUSIANYA YANG PALING TIDAK MASUK AKAL DALAM KEMASAN PENGETAHUAN! Sesama pencemooh akan menganggapnya pintar dan berakal budi. Buat aku, dia tidak sedang bicara dengan manusia lain kecuali dengan dirinya sendiri! Dia lupa kalau dia juga punya kelemahan yang sama!”

Dee tertawa.

“Kapan-kapan aku mau mengumpulkan uang buat kamu. Kamu harus sekolah lagi! Ingat yah, kamu bisa pakai mimbar siapa pun untuk berbicara satu hal…kalau mereka tahu kamu berasal dari mana, mereka akan menutup telinga mereka. Tetapi, jika mereka tahu kamu siapa dan berasal dari mana, sekalipun kamu bicara hal yang sama sekali tidak benar, mereka menganggap itu perintah untuk dijalankan! Mereka menganggap kamu benar dalam segala hal! Manusia masih melihat rupa, sekalipun ia rohaniwan! Cuma Tuhan yang melihat hati!” jelasku kepadanya.

Dee terlalu miskin untuk mengerti bahwa dunia yang ia jalani tidak bisa dipahami. Dee terlalu bodoh untuk memahami bahwa di gereja pun masih banyak orang Kristen yang gagal menjalani kekristenannya! Dee kembali ke jalanan dan melupakan pertobatannya karena pendeta yang menjadikannya Kristen waktu itu pergi dan membuka gereja baru, entah di mana. Sekarang ia belajar untuk mengampuni mereka setelah kembali dari KKR waktu itu. Namanya juga belajar, kadangkala Dee gagal untuk menerima kenyataan pahit bahwa masih banyak orang Kristen di gereja yang menabrak aturan demi tujuan mereka tercapai.

Dee terlalu polos untuk tahu mana yang benar dan mana yang salah. Ketika ia diminta untuk berbuat lebih kepada sesamanya, ia selalu bertanya,”Apa saya dibayar untuk melakukan pekerjaan itu?” Dee tidak terlalu rohani dalam banyak hal, jadi reaksinya kumaklumi. Sayangnya, di gereja banyak kutemui “tipikal seperti DEE” yang mau melayani kalau dibayar lebih. Aku jadi memahami perasaan Yesus di Getsemani. Ia tidak sendirian di sana. Ia ditemani 3 orang muridNya. Hanya saja, ketika Yesus berdoa…mereka tidur.

 

Ditulis untuk orang-orang seperti “Dee”

Kamar sepi hari ini, pk. 03.10 am   

 

“Orang yang mengritik kamu hari ini adalah orang yang tidak kenal kamu 10 tahun lagi dari sekarang!”—sianne ribkah M.H

Puisi “hujan di waktu sore hari”

December 16th, 2008 by theword

Pecahkan kata-kataku….bukan hatiku.

Hening itu bukan cuma milikku

Sunyi itu milik kita.

Gugurkan egoku…..bukan rasaku.

Cinta itu bukan cuma milikku

Perhatian itu milik kita berdua.

Bangunkan aku dari tidurku….bukan dari mimpiku.

Semangat itu bukan cuma milikku

Keinginan kuat untuk maju itu milikmu juga.

Lepaskan lelah di tengah kesesakan

Bukan dengan tangis atau ratapan

Juga bukan dengan makian atau keluhan

Aku datang kepadaMu, Tuhan

Tempat segala cintaku berlabuh

Ku beri diriku utuh dengan segala harap

Kau tak hanya menyediakan telinga untuk mendengar

Tetapi juga menyediakan jawaban doaku.

Tak seletih dulu….

Tak sesedih kemarin…

Sekalipun tak kulihat, yang ingin kulihat

Meskipun belum tampak, yang ingin kugenggam

Aku tetap percaya kepadaMu

Bukan hanya kepada janjiMu.

Surabaya, di kamar sepi sewaktu hujan

Pk. 06.41 pm

“KEPADA LANGIT YANG TAK PERNAH BOHONG!”

December 16th, 2008 by theword

Sudah satu minggu ini aku pindah kos. Pemalas seperti aku ini ternyata kalah juga dengan keadaan. Aku enggan memindahkan barang-barang yang kurasa tak perlu. Maka jadilah aku beramal dadakan ke tukang becak yang mengantarku pulang pergi dari tempat kos lama ke tempat kos baru sampai semua barangku terangkut ke tempat kos yang baru. Aku memberikan tape compoku, karpet, baygon elektrik dan beberapa barang yang kuanggap tak penting ke Pak Tari, pria paruh baya dengan senyum ramahnya yang khas.

Aku bukan Santa Claus dan orang baik hati sebenarnya. Yah, masih manusia yang sama juga dengan yang kemarin kamu kenal dan lihat! Belum menang melawan kemarahan dan telingaku masih terlalu tipis untuk menerima kritikan tidak jelas atau “berita tidak benar” yang selalu dianggap benar oleh kumpulan orang-orang tak berpengetahuan! Menyedihkan, aku baru tahu ternyata lebih mudah mempengaruhi orang dari pada membuat mereka memilah-milah berita yang mereka terima sebelum menelannya dan mencernanya sebagai suatu KEBENARAN mutlak!

Tetapi, kemalasanku membawa barang yang jarang kusentuh dan kuanggap tidak penting itulah yang menggerakkan pikiranku dan tanganku untuk beramal. Jadi, jangan menyebutku baik hati karena aku berbaik hati kepada Pak Tari yang matanya berkaca-kaca ketika menerima barang-barangku itu. Aku juga tidak peduli dengan ucapan terima kasihnya yang ia ucapkan dengan bibir bergetar karena terharu. Ia menaikkan semua barang itu ke becaknya dan memutar haluan becaknya ke arah berlawanan. Aku nyaris menutup pintu dan menguncinya ketika aku mendengar ia berteriak dari luar pagar.

“Niikk! Niiikkkk….!!!”

Aku membuka pintu dan melongokkan kepalaku ke arahnya.

“Ya? Ada apa, Pak?”

Ia tersenyum malu dan berkata dengan nada lugu,”Kalau menghidupkan radio, saya harus memencet tombol yang mana?”

Aku terkesima. Walah! Aku lupa kalau tape itu terlalu bagus (hehehe…sebenarnya itu tape SONY keluaran tahun 1991)untuk dikenali oleh tukang becak seperti Pak Tari. Aku keluar dan menerangkan kepadanya dengan bahasa sesederhana mungkin bagaimana caranya memasukkan kaset, menunjukkan tombol radionya dan menerangkan kepadanya bagaimana caranya mencari gelombang radio.

“Oh, ya. Terima kasih,” katanya sambil tersenyum lega.

Aku tak mau masuk sebelum yakin dia tahu kegunaan dan cara menggunakan barang-barangku itu. Maka jadilah aku memberi pelajaran singkat bagaimana caranya menghidupkan dan menggunakan Baygon elektrik. Sepintas lalu aku seperti salah satu staff penjualan Baygon elektrik yang sedang mempromosikan produknya ke pelanggan.

Benci sekali karena aku harus melakukan pekerjaan yang sebenarnya bukan pekerjaanku! Mengapa pembuatnya tidak pernah memikirkan keluguan orang-orang bawah yang tak terlalu paham bahasa Indonesia dan Inggris sekalipun dibuat sesederhana mungkin untuk bias dimengerti oleh mereka? Sebenarnya alat itu dibuat untuk mereka juga kan? Ah, sudahlah! Aku malas berdebat! Pada akhirnya ia mengerti juga! Aku masuk ke dalam dan membereskan barang-barang sisa yang ada sambil menunggu tante kosku mengambil kunci kosku. Aku bukan tipe “penunggu” sebenarnya. Dibutuhkan kesabaran untuk menunggu dan aku tak punya kesabaran selama itu! Tetapi karena aku tak punya hari lain untuk mengembalikan kunci, maka terpaksa kutunggu juga kedatangannya. Saat menunggu kedatangan tante kos itulah, salah seorang tukang becak yang terlihat muda usia menghampiriku dan bertanya seputar kepindahanku.

Kemudian mulailah ia merusak masa-masa penantianku dengan ceritanya yang menyedihkan sekaligus menyebalkan!

“Kak Sianne, masih ingat dengan pembantu yang bekerja di kos ini? Itu lho perempuan yang kak Sianne beri baju tiga kresek besar beberapa waktu lalu?” tanyanya berusaha mengingatkan.

Aduuuuhhhh!! Pemberianku ke perempuan itu suatu “kecelakaan” yang lain! Mengapa ia mengingatkanku akan hal itu?!

“Oh, iya. Ada apa ya, Pak? Bapak kenal dengan perempuan itu?” tanyaku balik kepadanya tanpa berharap ia menjawab….yang tak ingin kudengar. Sayang pengharapanku tak dikabulkan!

“Perempuan itu istri saya!”

Nah! Pernyataan itu yang tak mau kudengar! Tetapi sudah terlanjur kudengar. Ya, sudah. Mau bagaimana lagi?! Ia pun mulai bertutur…..

“Kasihan dia, kak Sianne! Ia mengalami pendarahan, padahal sedang hamil 3 bulan. Saya tidak punya uang untuk mengobatinya ke dokter. Saya sempat tanya ke tetangga saya yang bekerja sebagai perawat di rumah sakit. Menurut dia, istri saya harus diberi obat penguat janin supaya tidak keguguran. Tetapi biayanya ‘kan mahal, Kak! Saya tidak punya uang untuk membayar pengobatannya itu. Jadi, sementara ini saya biarkan dulu. Nanti kalau saya sudah punya uang, baru saya akan membawanya ke dokter.”

Aku terkesima mendengar penuturannya itu. Sejenak aku terdiam dalam pemikiran-pemikiranku sendiri. Aku enggan berbagi dengannya karena pasti kata-kataku melukainya. Tetapi…sungguh aku ingin menonjok rahangnya sekali saja supaya ia terbangun dari mimpinya tentang pernikahan! Aku paling benci kepada orang yang menikah hanya demi status atau karena tuntutan usia! Alasan yang tak masuk di akal sama sekali untuk memulai kesalahan fatal karena menikah tanpa persiapan!!

Sayangnya, banyak perempuan yang rela dinikahi tanpa persiapan hanya karena takut dinilai oleh orang-orang di sekitarnya sebagai “perawan tua yang tidak kunjung laku” atau dengan alasan “dari pada kadaluarsa”. Astaga! Maaf, aku menertawakan salah satu operator gerejaku yang menikah dengan dua alasan itu sehingga mengabaikan kenyataan bahwa pria yang dicntainya itu belum bekerja dan masih kuliah! Baru kenal tiga hari dan beberapa minggu kemudian menikah di gereja karena paksaan keadaan dan orang tua! Mengapa perempuan tidak bisa memutuskan sendiri kapan tepatnya ia boleh menikah? Mengapa harus menikah kalau tak yakin? Dan mengapa harus tetap ada pernikahan jika kita tahu pria itu tidak layak kita nikahi?

“Kak! Diajak bicara kok malah melamun sih?” sergahnya kesal.

Aku terbangun dari lamunanku dan menatapnya tajam. Kalau kamu kesal karena ceritamu tidak kusimak dengan benar, aku kesal karena kamu memaksaku mendengar ceritamu. Aku menghela nafas panjang sebelum akhirnya menjawab.

“Oh, ya. Maaf.”

Ia tersenyum dan balas berkata,”Tadinya aku mau jual becak ini seharga Rp. 500.000 ke orang lain. Sudah ada yang mau beli lho, Kak! Tetapi, kalau becak ini saya jual…saya tidak punya pekerjaan. Akhirnya, yah…nasib istri saya masih tetap terkatung-katung…”

Cukup sudah. Aku memotong ceritanya sebelum ia sempat mengutarakan keinginannya untuk meminjam uang.

“Uhmm, waktu memutuskan untuk menikah…apa kamu sudah memikirkannya?”

Ia menggeleng lesu. Sudah kuduga!

“Kapan kamu mulai bekerja sebagai penarik becak?”

Ia tersenyum,”Sehari setelah menikah. Bapak mertua saya memberikan becaknya kepada saya supaya saya bisa segera bekerja.”

Aku menatapnya tak percaya. Astaga! Mudah sekali menaklukkan hati perempuan itu yah?! Pria pengangguran seperti dia pun bisa juga menggaet perempuan tanpa modal apa-apa! Jangan-jangan dia menikahi wanita yang tak tahu apa artinya pernikahan sebenarnya! Kalau memang benar demikian….maklumlah! Tetapi, mengapa kalau sengsara kemudian melibatkan banyak orang untuk bertanggung jawab dengan keputusan yang telah mereka buat sendiri?!

“Wah! Hebat sekali kamu! Menikah pakai apa waktu itu?” sergahku tak kalah kesal.

Ia tertunduk malu dan menjawab lirih,”Aku cuma punya cinta, kak!”

Ops! Jawabannya klise banget! Duniaku benar-benar runtuh mendengar jawaban kuno itu! Akhirnya, sisa penantianku di kos lamaku kuhabiskan untuk menatar pria penarik becak yang tak tahu apa artinya pernikahan dan tanggung jawab.

“Mas, dulu waktu menikah…kok tidak tanya aku? Sekarang waktu ada masalah, minta nasihatku dan uangku lagi!”

Ia terdiam. Tak bisa menjawab.

“Seharusnya yah, Mas. Kalau berani melamar anaknya orang, yah seharusnya Mas berani dong memastikan nantinya Mas dan istri Mas akan tinggal di mana, makan apa, bayar listrik dan air pakai apa. Bayar listrik dan air ‘kan tidak pakai daun, Mas!” jelasku panjang lebar.

Ia tetap diam tak bergeming.

“Ini belum biaya pendidikan lho, Mas! Baru akan membayar istri Mas yang hamil aja sudah kelimpungan! Bagaimana nanti kalau melahirkan, punya anak, harus menyekolahkan anak-anak, kalau mereka sakit atau keperluan mendadak lainnya?! Tidak pernah berpikir ke sana ya, Mas? Yang penting cuma bisa nikah doang?! Baguslah! Wong pinter itu memang kayak sampeyan gini, Mas! Pas giliran enak, Mas diam aja. Pas giliran istri Mas sakit, datang ke tetangga. Gak lucu banget, Mas! Pernikahan itu bukan dagelan, Mas! Bukan sinetron! Kalau sinetron, masih bisa dipotong atau adegannya diubah. Hidup aktornya atau aktrisnya bisa jadi lebih baik atau lebih sengsara bergantung sutradaranya. Tetapi pernikahan Mas dan dia ‘kan reality show! Kapan mau diubahnya, Mas?!” lanjutku kesal.

Ia benar-benar tak bisa bicara sekarang. Kehabisan kata-kata. Aku merasa di atas angin, jadi aku meneruskan kalimatku.

“Maaf yah, Mas. Bukannya tidak mau menolong. Tetapi aku tahu pasti kalau cinta itu harus diuji oleh waktu. Tadi Mas kan bilang kalau Mas cuma punya CINTA…bagaimana kalau cintanya dijual dulu? Kalau udah laku, Masnya baru datang ke saya lagi. Nanti pasti saya bantu!” sindirku.

Ia menghela nafas panjang sebelum akhrnya menjawab,”Mau dijual ke mana? Siapa yang mau beli?”

“TUHAN!” tukasku sambil beranjak berdiri. “Jual cinta Mas ke TUHAN! Kalau TUHAN mau beli, Mas pasti saya tolong!”

Ia tak berkutik sekarang. Ia membiarkanku berlalu tanpa uang di tangannya. Aku mengembalikan kunci kosku dan menghindari pertemuan dengannya.

Jujur, aku cuma mau membantu orang yang sudah berusaha dengan segala cara untuk berhasil….tetapi tetap jatuh juga! Aku mau menolong orang yang selalu punya semangat dalam menghadapi hidup dan berkata, ”Aku tak bisa dikalahkan oleh waktu!”…..sekalipun waktu telah menggerusnya hidup-hidup. Aku enggan menolong orang bermental pengemis yang menganggap dirinya adalah orang yang paling malang dan butuh bantuan pangan sedunia! Maaf, aku tak sebaik itu. Aku bukan Santa Claus yang suka bagi-bagi hadiah di hari Natal. Aku juga bukan malaikat untuk semua permasalahan orang-orang.

Tetapi ini yang kulakukan jika aku tak punya uang atau pekerjaan: aku akan datang ke restoran nasi Padang atau MacDonalds dan bekerja di sana! Kebanyakan orang lebih mengedepankan rasa malu yang tak perlu ketimbang berjuang untuk masa depannya yang lebih penting! Untuk pemalas-pemalas seperti itu….aku adalah Piet Hitam dengan cambuk di tangan! (Hahahaha…..Just kidding….)

Jika kamu tanya di mana belas kasihanku sebenarnya berada….jawabanku sederhana. Tanya saja kepada LANGIT YANG TAK PERNAH BOHONG! Aku tidak mau menjawabnya! Maaf.

Surabaya, 14 Desember 2008

“KEPADA LANGIT YANG TAK PERNAH BOHONG!”

December 16th, 2008 by theword

Sudah satu minggu ini aku pindah kos. Pemalas seperti aku ini ternyata kalah juga dengan keadaan. Aku enggan memindahkan barang-barang yang kurasa tak perlu. Maka jadilah aku beramal dadakan ke tukang becak yang mengantarku pulang pergi dari tempat kos lama ke tempat kos baru sampai semua barangku terangkut ke tempat kos yang baru. Aku memberikan tape compoku, karpet, baygon elektrik dan beberapa barang yang kuanggap tak penting ke Pak Tari, pria paruh baya dengan senyum ramahnya yang khas.

Aku bukan Santa Claus dan orang baik hati sebenarnya. Yah, masih manusia yang sama juga dengan yang kemarin kamu kenal dan lihat! Belum menang melawan kemarahan dan telingaku masih terlalu tipis untuk menerima kritikan tidak jelas atau “berita tidak benar” yang selalu dianggap benar oleh kumpulan orang-orang tak berpengetahuan! Menyedihkan, aku baru tahu ternyata lebih mudah mempengaruhi orang dari pada membuat mereka memilah-milah berita yang mereka terima sebelum menelannya dan mencernanya sebagai suatu KEBENARAN mutlak!

Tetapi, kemalasanku membawa barang yang jarang kusentuh dan kuanggap tidak penting itulah yang menggerakkan pikiranku dan tanganku untuk beramal. Jadi, jangan menyebutku baik hati karena aku berbaik hati kepada Pak Tari yang matanya berkaca-kaca ketika menerima barang-barangku itu. Aku juga tidak peduli dengan ucapan terima kasihnya yang ia ucapkan dengan bibir bergetar karena terharu. Ia menaikkan semua barang itu ke becaknya dan memutar haluan becaknya ke arah berlawanan. Aku nyaris menutup pintu dan menguncinya ketika aku mendengar ia berteriak dari luar pagar.

“Niikk! Niiikkkk….!!!”
Aku membuka pintu dan melongokkan kepalaku ke arahnya.
“Ya? Ada apa, Pak?”
Ia tersenyum malu dan berkata dengan nada lugu,”Kalau menghidupkan radio, saya harus memencet tombol yang mana?”
Aku terkesima. Walah! Aku lupa kalau tape itu terlalu bagus (hehehe…sebenarnya itu tape SONY keluaran tahun 1991)untuk dikenali oleh tukang becak seperti Pak Tari. Aku keluar dan menerangkan kepadanya dengan bahasa sesederhana mungkin bagaimana caranya memasukkan kaset, menunjukkan tombol radionya dan menerangkan kepadanya bagaimana caranya mencari gelombang radio.
“Oh, ya. Terima kasih,” katanya sambil tersenyum lega.
Aku tak mau masuk sebelum yakin dia tahu kegunaan dan cara menggunakan barang-barangku itu. Maka jadilah aku memberi pelajaran singkat bagaimana caranya menghidupkan dan menggunakan Baygon elektrik. Sepintas lalu aku seperti salah satu staff penjualan Baygon elektrik yang sedang mempromosikan produknya ke pelanggan.

Benci sekali karena aku harus melakukan pekerjaan yang sebenarnya bukan pekerjaanku! Mengapa pembuatnya tidak pernah memikirkan keluguan orang-orang bawah yang tak terlalu paham bahasa Indonesia dan Inggris sekalipun dibuat sesederhana mungkin untuk bias dimengerti oleh mereka? Sebenarnya alat itu dibuat untuk mereka juga kan? Ah, sudahlah! Aku malas berdebat! Pada akhirnya ia mengerti juga! Aku masuk ke dalam dan membereskan barang-barang sisa yang ada sambil menunggu tante kosku mengambil kunci kosku. Aku bukan tipe “penunggu” sebenarnya. Dibutuhkan kesabaran untuk menunggu dan aku tak punya kesabaran selama itu! Tetapi karena aku tak punya hari lain untuk mengembalikan kunci, maka terpaksa kutunggu juga kedatangannya. Saat menunggu kedatangan tante kos itulah, salah seorang tukang becak yang terlihat muda usia menghampiriku dan bertanya seputar kepindahanku.

Kemudian mulailah ia merusak masa-masa penantianku dengan ceritanya yang menyedihkan sekaligus menyebalkan!
“Kak Sianne, masih ingat dengan pembantu yang bekerja di kos ini? Itu lho perempuan yang kak Sianne beri baju tiga kresek besar beberapa waktu lalu?” tanyanya berusaha mengingatkan.
Aduuuuhhhh!! Pemberianku ke perempuan itu suatu “kecelakaan” yang lain! Mengapa ia mengingatkanku akan hal itu?!
“Oh, iya. Ada apa ya, Pak? Bapak kenal dengan perempuan itu?” tanyaku balik kepadanya tanpa berharap ia menjawab….yang tak ingin kudengar. Sayang pengharapanku tak dikabulkan!
“Perempuan itu istri saya!”
Nah! Pernyataan itu yang tak mau kudengar! Tetapi sudah terlanjur kudengar. Ya, sudah. Mau bagaimana lagi?! Ia pun mulai bertutur…..
“Kasihan dia, kak Sianne! Ia mengalami pendarahan, padahal sedang hamil 3 bulan. Saya tidak punya uang untuk mengobatinya ke dokter. Saya sempat tanya ke tetangga saya yang bekerja sebagai perawat di rumah sakit. Menurut dia, istri saya harus diberi obat penguat janin supaya tidak keguguran. Tetapi biayanya ‘kan mahal, Kak! Saya tidak punya uang untuk membayar pengobatannya itu. Jadi, sementara ini saya biarkan dulu. Nanti kalau saya sudah punya uang, baru saya akan membawanya ke dokter.”

Aku terkesima mendengar penuturannya itu. Sejenak aku terdiam dalam pemikiran-pemikiranku sendiri. Aku enggan berbagi dengannya karena pasti kata-kataku melukainya. Tetapi…sungguh aku ingin menonjok rahangnya sekali saja supaya ia terbangun dari mimpinya tentang pernikahan! Aku paling benci kepada orang yang menikah hanya demi status atau karena tuntutan usia! Alasan yang tak masuk di akal sama sekali untuk memulai kesalahan fatal karena menikah tanpa persiapan!!

Sayangnya, banyak perempuan yang rela dinikahi tanpa persiapan hanya karena takut dinilai oleh orang-orang di sekitarnya sebagai “perawan tua yang tidak kunjung laku” atau dengan alasan “dari pada kadaluarsa”. Astaga! Maaf, aku menertawakan salah satu operator gerejaku yang menikah dengan dua alasan itu sehingga mengabaikan kenyataan bahwa pria yang dicntainya itu belum bekerja dan masih kuliah! Baru kenal tiga hari dan beberapa minggu kemudian menikah di gereja karena paksaan keadaan dan orang tua! Mengapa perempuan tidak bisa memutuskan sendiri kapan tepatnya ia boleh menikah? Mengapa harus menikah kalau tak yakin? Dan mengapa harus tetap ada pernikahan jika kita tahu pria itu tidak layak kita nikahi?

“Kak! Diajak bicara kok malah melamun sih?” sergahnya kesal.
Aku terbangun dari lamunanku dan menatapnya tajam. Kalau kamu kesal karena ceritamu tidak kusimak dengan benar, aku kesal karena kamu memaksaku mendengar ceritamu. Aku menghela nafas panjang sebelum akhirnya menjawab.
“Oh, ya. Maaf.”
Ia tersenyum dan balas berkata,”Tadinya aku mau jual becak ini seharga Rp. 500.000 ke orang lain. Sudah ada yang mau beli lho, Kak! Tetapi, kalau becak ini saya jual…saya tidak punya pekerjaan. Akhirnya, yah…nasib istri saya masih tetap terkatung-katung…”
Cukup sudah. Aku memotong ceritanya sebelum ia sempat mengutarakan keinginannya untuk meminjam uang.
“Uhmm, waktu memutuskan untuk menikah…apa kamu sudah memikirkannya?”
Ia menggeleng lesu. Sudah kuduga!
“Kapan kamu mulai bekerja sebagai penarik becak?”
Ia tersenyum,”Sehari setelah menikah. Bapak mertua saya memberikan becaknya kepada saya supaya saya bisa segera bekerja.”
Aku menatapnya tak percaya. Astaga! Mudah sekali menaklukkan hati perempuan itu yah?! Pria pengangguran seperti dia pun bisa juga menggaet perempuan tanpa modal apa-apa! Jangan-jangan dia menikahi wanita yang tak tahu apa artinya pernikahan sebenarnya! Kalau memang benar demikian….maklumlah! Tetapi, mengapa kalau sengsara kemudian melibatkan banyak orang untuk bertanggung jawab dengan keputusan yang telah mereka buat sendiri?!
“Wah! Hebat sekali kamu! Menikah pakai apa waktu itu?” sergahku tak kalah kesal.
Ia tertunduk malu dan menjawab lirih,”Aku cuma punya cinta, kak!”

Ops! Jawabannya klise banget! Duniaku benar-benar runtuh mendengar jawaban kuno itu! Akhirnya, sisa penantianku di kos lamaku kuhabiskan untuk menatar pria penarik becak yang tak tahu apa artinya pernikahan dan tanggung jawab.
“Mas, dulu waktu menikah…kok tidak tanya aku? Sekarang waktu ada masalah, minta nasihatku dan uangku lagi!”
Ia terdiam. Tak bisa menjawab.
“Seharusnya yah, Mas. Kalau berani melamar anaknya orang, yah seharusnya Mas berani dong memastikan nantinya Mas dan istri Mas akan tinggal di mana, makan apa, bayar listrik dan air pakai apa. Bayar listrik dan air ‘kan tidak pakai daun, Mas!” jelasku panjang lebar.
Ia tetap diam tak bergeming.
“Ini belum biaya pendidikan lho, Mas! Baru akan membayar istri Mas yang hamil aja sudah kelimpungan! Bagaimana nanti kalau melahirkan, punya anak, harus menyekolahkan anak-anak, kalau mereka sakit atau keperluan mendadak lainnya?! Tidak pernah berpikir ke sana ya, Mas? Yang penting cuma bisa nikah doang?! Baguslah! Wong pinter itu memang kayak sampeyan gini, Mas! Pas giliran enak, Mas diam aja. Pas giliran istri Mas sakit, datang ke tetangga. Gak lucu banget, Mas! Pernikahan itu bukan dagelan, Mas! Bukan sinetron! Kalau sinetron, masih bisa dipotong atau adegannya diubah. Hidup aktornya atau aktrisnya bisa jadi lebih baik atau lebih sengsara bergantung sutradaranya. Tetapi pernikahan Mas dan dia ‘kan reality show! Kapan mau diubahnya, Mas?!” lanjutku kesal.
Ia benar-benar tak bisa bicara sekarang. Kehabisan kata-kata. Aku merasa di atas angin, jadi aku meneruskan kalimatku.
“Maaf yah, Mas. Bukannya tidak mau menolong. Tetapi aku tahu pasti kalau cinta itu harus diuji oleh waktu. Tadi Mas kan bilang kalau Mas cuma punya CINTA…bagaimana kalau cintanya dijual dulu? Kalau udah laku, Masnya baru datang ke saya lagi. Nanti pasti saya bantu!” sindirku.
Ia menghela nafas panjang sebelum akhrnya menjawab,”Mau dijual ke mana? Siapa yang mau beli?”
“TUHAN!” tukasku sambil beranjak berdiri. “Jual cinta Mas ke TUHAN! Kalau TUHAN mau beli, Mas pasti saya tolong!”
Ia tak berkutik sekarang. Ia membiarkanku berlalu tanpa uang di tangannya. Aku mengembalikan kunci kosku dan menghindari pertemuan dengannya.

Jujur, aku cuma mau membantu orang yang sudah berusaha dengan segala cara untuk berhasil….tetapi tetap jatuh juga! Aku mau menolong orang yang selalu punya semangat dalam menghadapi hidup dan berkata, ”Aku tak bisa dikalahkan oleh waktu!”…..sekalipun waktu telah menggerusnya hidup-hidup. Aku enggan menolong orang bermental pengemis yang menganggap dirinya adalah orang yang paling malang dan butuh bantuan pangan sedunia! Maaf, aku tak sebaik itu. Aku bukan Santa Claus yang suka bagi-bagi hadiah di hari Natal. Aku juga bukan malaikat untuk semua permasalahan orang-orang.

Tetapi ini yang kulakukan jika aku tak punya uang atau pekerjaan: aku akan datang ke restoran nasi Padang atau MacDonalds dan bekerja di sana! Kebanyakan orang lebih mengedepankan rasa malu yang tak perlu ketimbang berjuang untuk masa depannya yang lebih penting! Untuk pemalas-pemalas seperti itu….aku adalah Piet Hitam dengan cambuk di tangan! (Hahahaha…..Just kidding….)

Jika kamu tanya di mana belas kasihanku sebenarnya berada….jawabanku sederhana. Tanya saja kepada LANGIT YANG TAK PERNAH BOHONG! Aku tidak mau menjawabnya! Maaf.

Surabaya, 14 Desember 2008

“AROGANSI ATAU SEKADAR MEMILIKI SENSE OF BELONGING?”

October 14th, 2008 by theword

Aku bukan seperti yang orang lain pikirkan. Tetapi apa yang sebenarnya mereka pikirkan tentang aku? Aku tak terlalu jelas! Kecuali mereka berhenti membicarakanku di belakangku dan mulai berhadapan denganku untuk bicara tentang kekuranganku. Tetapi mana berani?! Setahuku orang Indonesia (dari mana pun mereka berasal) cuma berani bicara kepada tembok atau angin! Angin atau tembok itulah yang bercerita kepadaku semua hal tentang mereka. Tentang gosip yang mereka buat. Tentang ketidaksukaan mereka kepadaku. Tentang apa saja yang mereka namakan “kesombongan Sianne”.

Sekalipun aku tak tahu kalimat pastinya seperti apa, tetapi aku bisa membaca bahasa tubuh mereka! Terutama ketika mereka tertawa dengan ekspresi menggantung dan tak jelas mau bicara apa. Aku dapat menebak dengan tepat apa yang sesungguhnya ada di kepala mereka saat itu! Aku sombong?! Oke, aku terima itu! Tetapi, aku mau tanya kepada kalian: “Sombong itu apa sih?! Rendah hati itu apa?!” Apakah bangga dengan hasil tulisan sendiri dan mengedit tulisan atau buku orang lain untuk membuatnya menjadi lebih baik itu sebuah kesombongan?! Apakah bila aku memberitahu tiap orang yang bangga dengan sebuah buku bertuliskan “best seller” padahal buku tersebut penuh dengan kesalahan di mana-mana (salah kalimat dan salah tanda baca) itu sebuah kesombongan?!

Aku pikir bila aku memakai caramu berpikir, maka aku bukanlah aku yang kukenal selama ini! Aku yakin aku adalah aku dengan gaya penulisanku sendiri yang tak pernah kamu kenali karena sejujurnya kamu enggan membaca tulisan-tulisanku (bukannya itu juga bentuk lain dari kesombongan yang tidak diakui?!). Sebenarnya, tanpa kita sadari, aku dan kamu sama sombongnya! Bedanya, aku mengakuinya….dan kamu mati-matian menyembunyikannya di balik jubah kerohanianmu yang tak tertandingi itu! Jadi, kesannya kamu lebih rendah hati dari aku! Tetapi, ingat…kesan itu cuma penampakan dari luar saja, bukan sesuatu yang sebenarnya keluar dari dalam dirimu.

Tetapi, demi disebut rendah hati olehmu….aku meminta maaf jika aku selama ini sombong kepadamu! Seharusnya aku tidak berkomentar apapun atas tulisan-tulisan orang lain, atau buku-buku orang lain. Aku akan diam mulai hari ini! Dengan catatan, “Jangan bicara tentang buku lain kepadaku! Biar aku yang datang kepadamu dan memamerkan bukuku!” Bagiku, buku dengan puluhan komentar orang penting di dalamnya adalah buku para pengecut yang tak berani membiarkan bukunya dinilai orang sebagaimana adanya! Bagiku, buku yang penuh dengan dukungan atau ajakan untuk membeli dan membaca buku tersebut adalah buku yang gagal berdiri sebagai buku!

Mengapa demikian? Karena penulisnya tak percaya kepada kemampuannya untuk menulis! Ia menaruh semua keyakinannya kepada komentar orang-orang terdekatnya yang belum tentu membaca semua bab dari buku yang ditulisnya! Aku bangga kepada tulisan-tulisanku, mempertahankannya sebagai “yang terbaik” adalah kewajibanku sebagai seorang penulis! Sama dengan seorang penjual yang menjual sebuah produk ke toko. Ia tak mungkin akan berkata,”Selamat siang, Pak! Saya ingin memperkenalkan sebuah produk baru kepada bapak. Produk ini kemasannya tidak terlalu menarik dan cenderung kuno. Tidak sesuai dengan jaman ini! Produk ini juga gampang rusak bila tidak segera ditaruh di lemari es, apalagi jika bapak sudah membuka penutup kalengnya. Isinya tidak terlalu enak untuk dimakan dan rasanya hambar. Bukan itu saja, kalau disimpan lebih dari seminggu produk ini akan mengeluarkan bau yang menyengat dan berbelatung. Dibandingkan dengan produk dengan jenis sama seperti produk ini, produk saya ini adalah yang terburuk! Mengapa demikian? Karena produk saya ini adalah produk gagal pakai. Sekarang terserah bapak. Kalau mau beli, Puji Tuhan! Kalau tidak, saya akan pulang sekarang juga.”

Apakah itu berarti penjual tersebut jujur dan rendah hati? Aku ingat cara kakakku yang bekerja di Wings Surya ketika ia menawarkan Mie Sedaap untuk pertama kalinya ke warung-warung Indomie di pinggir jalan, depan kos kami. Ia menghampiri salah satu penjualnya dan mulai memesan mie.

“Pak, saya mau beli “Mie Sedaap” rasa soto dan yang mie goreng satu. Pakai telur dan sayur yang banyak, tidak usah diberi cabai,” katanya, kemudian duduk di salah satu bangku yang tersedia di sana.

“Waduh! Maaf. Tidak ada “Mie Sedaap” di sini. Yang ada cuma Sarimi rasa “ayam bawang”, Indomie goreng, Indomie rasa “ayam shechuan” dan….”

Belum selesai ia menjelaskan, kakakku langsung memotongnya.

“Wah, maaf juga, Pak! Kalau begitu, saya tidak jadi beli. Lain kali saja deh!”

Ia langsung bangkit dari bangkunya dan menarik tanganku untuk segera pergi dari situ. Jujur, aku penggemar mie kuah. Apapun aku suka! Aku bukan orang yang terpaku dengan merek, tetapi dengan rasanya! Jadi, aku tertawa ketika kakakku memaksaku untuk masuk ke rasa cintanya yang berlebihan kepada produk perusahaannya itu. Hampir satu jam kita berjalan, tetapi tidak kutemukan indikasi bahwa kakakku yang satu ini mau makan mie di pinggir jalan. Ia cuma mau memberitahu mereka bahwa yang dicari orang itu adalah “Mie Sedaap” dan yang enak rasanya cuma “Mie Sedaap”. Aku tertawa keras ketika keesokan harinya, semua warung di pinggir jalan depan kosku itu menyediakan “Mie Sedaap” goreng dan “Mie Sedaap” rasa soto. Bagaimana aku bisa tahu? Karena keesokan harinya, kakakku mengajakku ke sana lagi! Tetapi kali ini kami berdua benar-benar makan “Mie Sedaap” di salah satu warung yang ada di sana! Ia pesan mie goreng dan aku pesan yang rasa soto.

Apakah hanya itu? Tidak! Suatu kali ketika aku dan dia pergi ke pasar Atum. Karena panas dan bosan, aku menyanyi jingle lagunya “Eskulin” (parfum remaja yang cuma kutahu dari iklannya di televisi): “Sunday, Monday…Eskulin day…huhuhu…it’s beautiful day…” Belum selesai, kakakku sudah memotong,”Kamu pakai Eskulin?” Astaga! Aku tertawa dan berkata,”Cuma nyanyi doang!” Aku benar-benar kaget karena malam harinya ia datang ke kosku dengan “Fresh” stick yang berwarna biru, oranye, merah muda dan ungu dengan aroma yang menggoda. Hahaha…”Fresh” stick itu adalah salah satu produk perusahaannya. Yang lebih menyadarkanku tentang “sense of belonging” yang sudah mendarah daging di dalam dirinya adalah ketika aku masuk ke kamar mandi di rumahnya, di kawasan Nirwana eksekutif.

Di pojok kamar mandinya terdapat semua produk Wings dari Emeron shampoo, Page one body shower, So klin pembersih lantai, So klin detergent, Ciptadent pasta gigi. Di dapurnya aku menemukan “Mama Lemon” dan “Mama Lime”, ditambah pembalut yang juga keluaran perusahaannya di lemari pakaiannya. Tiap kali aku bicara tentang “Dove” body shower atau “Herbal” shampoo atau apapun yang kubeli, yang tak berbau produk perusahaannya, ia pasti menegurku dan tak butuh waktu lama untuk melihat ia menghujaniku dengan produk-produk perusahaannya. Ia pernah mengirimiku 30 sabun “Fresh” batang yang beraroma jeruk plus 3 sikat gigi keluaran perusahaannya! Alammaaakkk…..

Jadi, bila ia boleh bangga dengan sesuatu yang tidak dihasilkannya, mengapa aku tidak boleh bangga kepada tulisan-tulisanku sendiri yang notabene original keluar dari hasil pemikiranku? Aku adalah “penulis gila” yang demi disebut rendah hati oleh kamu, dengan bangga menunjukkan hasil karya orang lain dan mengabaikan karya-karyaku sendiri! Ops…………maaf, aku bukan seperti yang kamu pikirkan!

Surabaya, 15 Oktober 2008

Ditulis untuk “seseorang” yang menganggap aku tak mau digantikan hari ini.

SISI LAIN YESUS—SEBUAH POTRET YANG TERLUPAKAN

September 4th, 2008 by theword

Selama ini aku berpikir kalau aku adalah “seseorang”. Tak dikenal tetapi diharapkan. Sosok yang bersembunyi di balik kegelapan dinding-dinding dingin bisu selama bertahun-tahun. Aku lama sekali tak bicara atas nama pribadi. Jari-jariku merindukan saat-saat untuk menari di atas kertas sekali lagi! Sayangnya, ideku mati! Aku letih menulis. Aku seperti dipasung oleh aturan baku yang kaku, tak bisa kutawar. Aku menyerahkan nasibku kepada takdir, sekali lagi. Biar Tuhan yang menentukan jalanku. Aku enggan memilih.

Jadi, inilah “penjara emasku”. Tempat ide-ide gilaku bertahta dalam kekuatan kata-kata. Aku bukan ratunya. Cuma penguasa kecil yang menawan hati sekelompok orang. Tak lebih! Aku tak berani menengadahkan mukaku kepada yang berkuasa atas hidup matiku dan mempertanyakan keputusanNya. Tetapi aku juga keberatan untuk pasrah kepada opini pribadi atau asumsi orang. Cuma Tuhan yang kupikir benar ketika berpikir dan berkomentar tentang aku. Karena itulah pendapatNya selalu kuterima tanpa protes!

Hari ini aku kembali menatap kertas-kertas putih di atas mejaku. Tumpukannya tak berubah, masih sama seperti beberapa bulan yang lalu. Itu berarti selama itulah aku berhenti menulis. Aku menggigit bibir bawahku dan mendesah lirih. Seolah jiwaku yang hampa dibawa pergi entah ke mana, kembali merasukiku. Aku hidup kembali. Jiwaku yang letih karena komentar sumbang yang dilontarkan banyak orang kepadaku selama ini, bangkit tak terkendali. Maka inilah tulisan pertamaku yang keluar dari lubuk hati terdalam, yang selama ini terpendam.

Seharian ini aku berpikir tentang Yesus yang “menabrak” aturan kaku orang yahudi. Ia menyembuhkan orang di hari Sabat. Ia bergaul dengan orang berdosa. Ia duduk, bicara dan makan semeja dengan mereka. Sesuatu yang dijauhi dan dilarang untuk dilakukan oleh orang yang menganggap dirinya “paling rohani”. Dengan terang-terangan Ia menyindir sikap “sok rohani” orang Lewi dan imam (Lukas 10:30-33) yang membiarkan seseorang yang dirampok di tengah jalan dalam keadaan sekarat, hanya demi aturan kaku yang dijunjung tinggi!

KeteguhanNya dalam memegang kukuh kebenaran yang sejati, Ia tunjukkan kepada sekelompok orang Yahudi yang membenci perempuan Samaria yang ketahuan berzinah. Ia tak menjatuhkan keputusan berdasarkan pendapat manusia yang lebih susah diubah. Ia memilih untuk berdiri sebagai Pembebas bagi dosa perempuan itu, sekalipun beresiko dibenci dan dilempari batu oleh penentangNya. Ia justru mengembalikan keputusan terakhir itu kepada mereka,”Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu (Yoh. 8:7).”

Yesus adalah Sosok rohani yang tampak sangat tidak rohani ketika Ia melakukan hal-hal manusiawi yang tidak dilakukan oleh kaum rohaniwan lainnya di jaman itu. Ia menegur orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang melakukan kebiasaan agamanya sebagai bagian dari kedok mereka untuk tujuan terselubung (Matius 23:1-39). Bahkan dengan sengaja Ia berkata kepada murid-muridNya,”…turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya (Matius 23:3).

Bukan hanya itu saja, Ia juga mengecam mereka karena melakukan perkara-perkara rohani untuk mendapatkan pujian manusia. Dengan tegas Yesus berkata,”Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu mengarungi lautan dan menjelajah daratan, untuk mentobatkan satu orang saja menjadi penganut agamamu dan sesudah ia bertobat, kamu menjadikan dia orang neraka, yang dua kali lebih jahat dari pada kamu sendiri (Matius 23:15).

Ia juga menyebut mereka sebagai orang-orang munafik yang Ia umpamakan seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran (Matius 23:27). Ia adalah Yesus yang bebas dari “pesan sponsor”!! Ia tetap rendah hati, sekalipun tak berdiri di hadapan ribuan pengikutNya. Ia menyembuhkan orang di jalan-jalan, menyentuh banyak hati orang berdosa di luar Bait Suci, mengembalikan mereka kepada jalan yang benar (bukan hanya mencetak pengikut yang taat dan menghormati liturgi gereja) dan mengubah hidup orang berdosa secara total!

Ia dalam ketidakberdosaanNya dibuat seperti “berdosa” ketika Ia bergaul dengan orang-orang berdosa, memasuki pintu-pintu rumah mereka yang tertutup bagi kabar baik itu dan tidak menilai mereka berdasarkan standar manusia pada umumnya. Ia mengabaikan opini miring para ahli Taurat dan orang-orang Farisi yang mengajar doktrin-doktrin mati di Bait Allah dan membacakan firman Tuhan dari perkamen-perkamen, tetapi lupa kepada esensi ajaran itu sendiri. Mereka belajar tentang Tuhan setiap hari, tetapi tidak bisa mendengar suara Tuhan. Mereka membaca firman Tuhan tiap waktu, tetapi tidak mengenali PribadiNya. Mereka hafal doktrin yang tercantum di dalam tiap perkamen itu, tetapi tidak pernah sedikit pun terbersit di hati mereka niat untuk mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Itu sebabnya Yesus menyebut mereka sebagai “orang-orang munafik”, yang mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya (Matius 23:4). Bahkan secara spesifik Ia mendeskripsikan mereka sebagai orang yang: melakukan semua pekerjaannya hanya supaya dilihat orang (ayat 5) suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat (ayat 6), juga suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi (ayat 7).

Keberanian Yesus menentang ketidakbenaran yang terjadi di rumah Tuhan patut diacungi jempol! Tidak semua orang berani tampil sebagai seseorang atau tokoh yang menelanjangi “cacat” atau kebobrokan para rohaniwan di hadapan massanya sendiri dengan tujuan benar, bukan untuk menjatuhkan mereka. Kebanyakan dari kita yang hidup di jaman ini, mengritik atau mengecam kebobrokan moral atau “cacat” para rohaniwan atau pelayan Tuhan yang melayani di dalam gereja dengan tujuan supaya mereka segera “jatuh”. Kita sengaja menunggu saat yang tepat untuk melihat kejatuhan para hamba Tuhan itu, supaya bisa segera menceritakan proses kejatuhan mereka dari mulut ke mulut secara gratis dan bebas.

Yang lebih parah lagi, kita pura-pura tidak tahu, belajar beradaptasi dan menerima “cacat” itu sebagai sesuatu yang lumrah dan ada hampir di seluruh gereja moderen saat ini. Tak ada yang mau menjadi nabi Natan yang menegur kesalahan Raja Daud ketika ia meniduri Batsyeba dan membunuh Uria, suaminya, dengan cara licik! Tak ada yang mau menjadi Elia yang menegur Raja Ahab karena ia memilih meninggalkan Tuhan dan membangun kuil-kuil. Tiap orang yang tahu kebenaran sejati itu memilih untuk menutup mulut mereka rapat-rapat ketika seseorang melakukan kesalahan besar yang fatal dan mengira mereka sudah melakukan yang benar!

Beda dengan Yesus! Ia adalah Sosok yang sulit ditebak karena tak jarang Ia bertindak di luar batas kewajaran manusia. Mengapa aku menyebutnya demikian? Karena ketika semua orang merasa biasa dengan sekumpulan “pedagang” yang berjual beli di halaman Bait Allah, Yesus jutsru gerah melihat mereka. Ia menjungkir-balikkan semua meja penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati (Markus 11:15) dan tidak memperbolehkan orang membawa barang-barang melintasi halaman Bait Suci (Markus 11:16)! Apakah Ia hanya berhenti sampai di situ saja? Tidak!

Ia masuk ke Bait Allah dan mulai mengajar mereka,”Bukankah ada tertulis: Rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa? Tetapi kamu ini telah menjadikannya sarang penyamun!” (Markus 11:17). Aku dapat membayangkan ekspresi para pedagang merpati tersebut saat Yesus menjungkir-balikkan meja penukar uang dan bangku-bangku mereka, kemudian menyebut mereka sebagai “penyamun” yang membuat halaman Bait Allah sebagai “sarangnya”! Aku tertawa geli. Yesus membuatku jatuh cinta di bagian ini!

Itu sebabnya, aku tak heran ketika para ahli Taurat dan imam-imam kepala (orang-orang yang memilih “silence is golden” sebagai prinsip hidupnya) berusaha untuk membinasakanNya. Mereka takut kepadaNya, melihat seluruh orang banyak takjub akan pengajaranNya (Markus 11:18). Apakah mereka benar-benar takut kepadaNya? Tidak! Mereka cuma takut kepada pengaruh yang Yesus timbulkan ketika Ia mengajar! Mereka takut kehilangan pengaruh mereka karena Yesus berhasil “mencuri” perhatian orang banyak dengan ajaranNya yang beda.

Ketika aku melihat betapa kontroversialnya Yesus waktu itu, aku jadi berpikir tentang kekristenan hari ini. Apakah aku sudah menjalankan tugasku sebagai orang Kristen? Kebanyakan orang menganggap tugas orang Kristen hanya membawa orang kepada Kristus, membaptis mereka dalam nama Yesus dan menjadikan mereka murid yang nantinya akan memuridkan orang lain. Kita lupa bahwa kita hidup di dunia, bukan di surga. Kita berada di satu kapal yang sama dengan tujuan sama dan menghabiskan waktu-waktu bersama “orang-orang berdosa”. Tetapi kita hanya peduli kepada “tiket” yang telah kita bayar dan fasilitas yang kita dapatkan di kapal itu…tak lebih!

Teringat bagaimana acuhnya aku hidup sebagai orang Kristen hari ini….aku malu! Aku memanggil Yesus, “Guru”….tetapi mengabaikan ajaranNya. Aku menganggap Ia sebagai “Ayah”….tetapi sering meninggalkan rumahNya dan melukai hatiNya. Aku yang sebenarnya tak layak menjadi putriNya….jutsru Ia akui sebagai putri kesayanganNya di hadapan orang banyak dengan bangga! Aku kehilangan kata-kata terbaikku…..

Medio, Surabaya, 4 September 2008

Ditulis untuk Yesus yang kukenal hari ini

KETIKA DUNIAKU SEPI FASILITAS

August 21st, 2008 by theword

Buntu. Hilang sudah kemampuanku menulis di atas kertas dengan pena. Terlalu biasa instan dan dimanjakan dengan komputer sehingga sulit bagiku untuk menggunakan jari-jariku
untuk menari di atas lembaran kertas HVS. Aku seperti kehilangan ide ketika berhadapan dengan kertas putih polos itu. Satu jam berlalu tanpa hasil! Sia-sia! Buang-buang waktu! Belasan judul kutulis di sana dengan tulisan cakar ayam (karena
sebenarnya enggan menulis dengan tangan), tetapi…tak ada satu pun artikel, cerpen atau puisi yang jadi!

Era modernisasi yang menghadirkan komputer membuat penulis seperti aku malas memulai tulisannya dengan pena! Alhasil, ketika laptop kesayanganku mati total seperti kali ini…aku dilanda stress yang berkepanjangan karena seperti lumpuh! Aku jadi bingung bagaimana memulai dialog setelah melihat bahwa belasan judul yang kubuat tampak tidak menarik untuk dibuat apapun! Setelah berjam-jam memikirkannya, aku memutuskan untuk berhenti berpikir dan bekerja di atas lembaran kertas HVS itu.

Tetapi, di jam ini aku mulai lagi memikirkan penyebab aku tak bisa menuangkan satu ide cerita pun di atas lembaran kertas-kertas itu. Setelah kutelaah baik-baik dan secara seksama, aku baru menyadari bahwa aku termakan tekhnologi! Tekhnologi yang dibuat serba ada, praktis dan cepat membuat aku terlena akan kecanggihannya dan fasilitas yang tersedia di dalamnya. Aku sudah terbiasa copy paste ayat-ayat Alkitab di Alkitab elektronik yang memang disediakan di laptopku sehingga aku tidak perlu mengulang ritme kerja yang sama. Lebih praktis dan efisien, di samping mengurangi resiko salah tulis ayat Alkitab.

Aku juga terbiasa men-delete kalimat panjang-panjang yang aku rasa tidak perlu dan memakan waktu pembacanya jika artikel itu diterbitkan. Tidak perlu mencoretnya atau menghapusnya dengan tip-ex. Lebih bersih dan cepat karena tidak perlu menunggu kertas yang dikenai tip-ex kering. Semua tulisan yang kuanggap penting, kutaruh di satu folder dalam file-file yang rapi jali. Kalau aku butuh, tinggal mengkliknya satu kali atau dua kali, file yang kuinginkan sudah dimunculkan di layar laptopku. Aku tak perlu membawa semua naskah yang ada, karena yang kuperlukan sudah bisa segera
dikerjakan.

Aku juga tak memerlukan map-map besar untuk menyimpannya, karena aku telah menyimpan semua artikel yang kubutuhkan di dalam satu folder, berdasarkan nama-namanya dan tanggal dibuatnya. Mudah dan tak memakan semua waktuku. Sembilan tahun lebih aku bekerja dengan komputer berbagai tipe dan merek, dari yang paling lambat sampai yang lumayan cepat, dari komputer dengan layar paling jelek sampai laptop dengan fasilitas wifi di dalam untuk internet; aku merasa terbuai. Sehingga ketika semua fasilitas itu ditarik paksa, aku limbung.

Kertas-kertas penuh coretan tak jelas itu pun mendarat di tempat sampah dengan sukses! Aku belum menemukan cara untuk keluar dari perasaan tak berdaya karena tak ada laptop
itu. Gagal menjadi penulis idealis yang bisa menulis puisi di atas tissue, amplop, pinggiran koran bekas, daun-daun, buku pelajaran, dinding, kertas manila atau kardus. Aku seolah-olah lupa dengan kodrat awalku sebagai penulis jalanan yang miskin fasilitas. Ah, apakah kenyamanan berhasil mencetak aku menjadi penulis bayaran seperti yang mereka mau? Aku takut kalau apa yang kutakutkan itu benar!

Mengerikan sekali jika aku sangat tergantung dengan fasilitas yang disediakan oleh tekhnologi demi kenyamanan tak tergantikan di atas lembaran kertas virtual atau imajiner. Aku merasa kepalaku sakit. Berdenyut perlahan dan ritmenya mulai
teratur.

Aku tahu kalau waktuku terbatas. Tetapi tanpa fasilitas apapun di tangan, aku merasa dilucuti dan tak berdaya. Aku tak yakin aku bisa melewati semua batas waktu yang ditetapkan dengan rusaknya laptopku itu. Aku kembali antri menunggu giliran menulis…di komputer kantor yang statis, bunyinya mengangguku karena tutsnya yang berat, sehingga aku harus mengerahkan segala tenagaku untuk menekannya (jadi seperti mesin ketik deh!) dan rela diusir sewaktu-waktu jika ada yang mau pakai komputernya untuk internetan. Alamak! Kejam sekali sih…

“Kepada orang-orang yang tidur di dunia Kristen!

June 3rd, 2008 by theword

Aku mau bicara setelah lama
membisu. Aku membisu bukan karena terpaksa. Tetapi dipaksa oleh keadaan yang
kadangkala membuatku harus melihat dengan hati, bukan dengan mata. Karena
kuyakini dengan sangat, bila aku melihat kepincangan yang terjadi akhir-akhir
ini dengan mata, aku akan keluar dari kasih karunia Bapa itu! Kutahu
kelemahanku. Kutahu yang kutuju bukan itu. Aku bukan pengkhianat yang menjilat
ludahku demi orang lain senang! Aku juga tak butuh pujian, belas kasihan,
pengakuan atau penerimaan akan sesamaku. Jujur, aku letih melihatmu…berdiri di
sana dalam “pengetahuan
semu” yang kau bangga-banggakan kepada semua orang yang mendengar suaramu! Itu
kebodohan sebenarnya….tetapi kau terlambat tahu! Sayang sekali!

Aku datang ke tempatmu, karena
kau tak pernah mau singgah ke perhentianku. Siapa sih aku dibandingkan kamu
yang bisa bicara seenaknya dan mendapatkan tepuk tangan gratis? Aku bicara di
panggungmu pun tak akan ada yang mau mendengar aku bicara, sekalipun itu benar!
Panggungku tak sebesar panggungmu! Sepi penggemar pula. Tetapi, ini yang
kuhidupi sekarang. Dunia tak terhindarkan dan tak mampu kusesali karena ia
mengikutiku seperti bayang-bayang. Karena tak bisa kulepaskan, kubiarkan ia
mengikutiku sebagai bayanganku. Semoga tak ada yang tersinggung dengan
tulisanku ini….(harapan yang tak pernah jadi kenyataan…kuakui itu! Semua orang
tersinggung juga nyatanya! Parah yah bahasaku?…entahlah! Aku enggan minta
maaf.)

Keherananku kepada kekristenan
moderen—aku pakai bahasa ini karena ada istilah kekeristenan tradisional—di
abad ini diguncang oleh ketidaktahuanku dan kebodohanmu. Aku takut salah
memahamimu, jadi aku terpaksa mengeluarkanmu dari rasa nyaman dan zona amanmu.
Maafkan aku karena malam itu aku mengajarmu tentang arti kekristenan di
kepalaku selama ini. Tidak sama dengan didikan “bapak rohanimu”, kutahu itu
dari raut wajahmu saat itu. Tidak menerima, tetapi juga tak kuasa menolak.
Karena kau tahu aku benar! Tidak apa, berbeda itu indah. Aku menerimanya dengan
satu catatan penting yang harus kamu ingat baik-baik: “Semua perbedaan itu
lahir dari pikiran manusia semata!” Tetapi, bila perbedaan itu dibuat atas nama
Tuhan dan gereja, aku keberatan!

Apa yang ada di pikiranmu ketika
menginjil dengan cara aneh yang kamu sebut sebagai “mandat budaya? Hah! Apa itu
mandat budaya?! Budaya apa yang kau mandatkan ke anak-anakmu? Jas, dasi,
sepatu, rok mini, kaos ketat, celana blue jeans sobek-sobek, baju dengan leher
rendah dan memperlihatkan pusarmu disertai rambut yang dicat pirang itu bukan
budaya timur! Tanya ke nenek moyangmu, baru bicara! Nenek moyangmu adalah
pelaut dan petani! Mereka tidak pakai sepatu, tetapi pakai sandal yang disebut
klompen! Jalannya juga tidak tegak dan tegap dengan dagu terangkat, tetapi
dengan membungkuk hormat kepada siapapun yang ia lewati!

Mereka tidak mencat rambut hitam
mereka menjadi warna-warni sepertimu! Tetapi berani jamin mereka lebih sopan
dari kamu! Tutur bahasa mereka lebih santun dari kamu! Mereka menyebut orang
asing “Kisanak” sementara kamu menyebut orang asing “Heh atau hey”! Mereka
mempersilakan orang lain masuk ke rumah mereka dengan senyum lebar dan
keramahan tak terlukiskan di wajah mereka, kamu mengulurkan tangan dengan
keramahan yang dipaksakan hanya demi kata “tunduk dan taat” kepada pemimpinmu.
Keramahanmu dan kerendahan hatimu tidak lahir dari hati, tetapi dari aturan
yang dibuat! Baguslah, aku masih melihatmu di sana tiap minggu. Minimal dalam hal satu itu,
kamu lebih baik dari aku!

Hanya satu ini yang tak bisa kamu
curi dari hidupku: pikiran-pikiranku tentang kamu! Aku terus memikirkanmu
sepanjang hari ini. Ide mandat budayamu itu benar-benar membuat aku tak bisa
tidur. Aku sakit kepala tetapi kupikir akan lebih sakit kepala lagi bila aku
tidak menuangkannya dalam tulisan. Maka inilah tulisanku pertama yang lahir
dari kegundahan dan ketidaktahuanku akan “wajah gereja” akhir-akhir ini.
Berbulan-bulan aku mencari jawabannya, tetapi baru kutemui jawabannya kemarin.
Ketika aku pergi ke air terjun di Nongkojajar.

Di sana aku tinggal serumah dengan orang-orang
yang dilukai oleh gereja, yang berjuang untuk tetap hidup di jalur yang mereka
pilih tanpa (seharusnya) melupakan kekristenan mereka. Itu kata mereka sih! Aku
cuma melihat mereka sebagai sekumpulan orang benar—istilah rohaninya adalah
sekawanan domba di tengah serigala—yang hidup di jalur seni untuk penginjilan.
Mereka menyebutnya “mandat budaya”. Aku menerimanya! Aku baru merasa aneh
ketika seharian berada di sana,
aku tak mendengar lagu rohani sama sekali! Dari tape compo yang disetel
keras-keras di salah satu ruangan di sana,
aku mendengar lagu “Oke”, “Sempurna”, “Teman tapi mesra” dan lagu-lagu populer
lainnya yang aku tidak terlalu tahu judulnya. Aku terkesima. Wow!

Tidak salah ‘kan kalau malam itu aku bertanya kepadamu dan kepadamu, “Ini sekolah Alkitab ‘kan?” Dengan cemberut
seperti tak senang dengan pertanyaan itu kamu menjawab ketus, “Ya, iyalah! Di
sini kita diajar untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitar kita. Jadi,
membaur dengan kehidupan mereka. Kenapa kamu tanya?” Aku tertawa masam. Astaga!
Begitu yah?! Karena penasaran aku kembali bertanya,”Diajar apa?” Salah satu
dari mereka menjelaskan dengan nada tak ramah,”Kita diajar tari, nyanyi, main
musik, bikin film, menulis dan mengedit naskah drama film, menjahit dan
mendesain kostum kemudian keahlian itu dipakai untuk acara-acara di koramil
atau perayaan-perayaan lainnya. Itu sebabnya kita menyanyi lagu sekuler di
sini. Jangan heran! Rasul Paulus sendiri berkata bahwa di tengah orang Romawi
kita harus menjadi seperti orang Romawi, di tengah orang yahudi kita harus
menjadi seperti orang Yahudi!”

Aku terbahak. Aku menerima konsep
mandat budayamu! Tetapi…jangan bawa ayat Alkitab untuk melegalkan caramu
menginjil! Aku keberatan! Aku menatapmu dan menjawab,”Iya sih. Kamu benar.
Tetapi di Alkitab yang sama, ia juga berkata kalau kamu tidak boleh serupa
dengan dunia ini…” Ia terdiam dan melengos pergi. Aku terdiam. Tetapi pikiranku
berjalan ke arah berlawanan. Aku tak mengerti, aku yang salah dan terlalu kuno
atau kamu yang terlalu berlebihan?! Entahlah! Yang pasti selama di sana aku tidak pernah
melihat kalian duduk berlutut berdoa dan baca Alkitab secara pribadi. Kalian
berdoa berkelompok, kemudian setelah selesai mengambil gitar atau keyboard dan
mulai menyanyi lagu “Oke” atau “Sempurna” dengan penuh semangat. Pagi itu,
satu-satunya lagu rohani yang kudengar keluar dari petikan gitar Heri
(fulltimer pembelian). Ia menyanyikan lagu Nikita lirih sekali, “Selamat pagi,
Bapa…Selamat pagi, Yesus…Selamat pagi, Roh Kudus. Terima kasih atas anugerahMu,
semalam telah berlalu…” Lagu lama sebenarnya, tetapi lagu itulah yang membuat
keheningan tercipta. Mereka mematikan tape, keyboard dan menaruh gitar mereka.
Tak ada suara. Sunyi. Aku tersenyum. Lagu itu benar-benar membuat aku merasa
berada di….sekolah Alkitab!

Menit-menit menunggu waktunya
pulang ke Surabaya kupakai untuk berpikir tentang kalian yang terjebak di penginjilan semu dalam
kemasan “mandat budaya”. Tetapi aku enggan menulis buru-buru. Kuatir salah kaprah
dan dianggap terlalu kuno untuk konsepmu yang kupikir terlalu tinggi untuk
budaya timur itu. Itu pun kalau kamu ingat, kamu tidak tinggal di negeri 1001
malam atau negeri dongeng! Kita tinggal di
Indonesia yang penduduknya masih belajar bahasa Inggris, tetapi karena dipaksa keadaan,
mau tidak mau harus membaurkan bahasa asing ke bahasa Indonesia.

DI-DELETE ATAU DIHAPUS SAJA?!   

Aku mau mengajakmu berpikir
tentang kalimat ini: Satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa, yaitu Indonesia.
Almarhum Harry Rusli pernah menyindir generasi ini yang mencampur bahasa asing
ke Indonesia
supaya kelihatan keren (bukan terpelajar! Alasan yang aneh, ‘kan? Tetapi kok masih dijadikan alasan utama
juga olehmu sampai hari ini!) dan memelesetkan kalimat di atas seperti ini:
“Satu nusa, satu bangsa, satu language!
Beliau sengaja memakai kata “satu” dalam bahasa Indonesia untuk
menghubungkannya dengan kalimat sebelumnya yang dimulai kata “satu” yang
berarti sepakat untuk menyatukan tekad bertanah air satu dan berbangsa satu. Ia
mengganti bahasa dengan“language” untuk
menekankan perubahan bahasa asingnya yang ingin kita terima daripada kata
“bahasa” dalam bahasa Indonesianya. Pasti bingung, kan?!

Bagaimana dengan kata ini: “di-delete” saja atau dihapus saja,
dipending atau ditunda, menyuplai (asal kata dari supply) atau menyediakan, Visi (asal kata dari vision) atau saujana, kirim sms
atau kirim pesan, dan sekian ratus kata asing lainnya yang kita pakai sebagai
bahasa Indonesia hari ini! Boleh percaya atau tidak, itu penjajahan baru dalam
bentuk budaya yang dipaksakan untuk diterima sebagai bagian dari budaya kita,
sementara bahasa dan budaya aslinya luntur tak berbekas! Itu sebabnya tarian
dan budaya asli kita dijiplak dan dipatenkan sebagai budaya asli
Malaysia,
karena mereka lebih tahu cara menghargai bahasa dan budaya timur! Salut buat
Mahathir yang berani menyebut negaranya sebagai “Truly Asia dengan Michelle Yeoh
sebagai duta wisata negaranya (apakah masih sampai hari ini yah?).

Kata “Truly Asia” dipakai Malaysia untuk menohok negara
tetangganya yang sudah kebule-bulean sehingga tak sadar kalau mereka sedang
meninggalkan budayanya menuju sebuah percampuran budaya antara barat dan timur.
Istilah kerennya “when east meet west”
atau “ketika barat bertemu timur”. Mereka tetap mempertahankan pakaian adatnya
lengkap dengan bahasa melayunya di samping bahasa Inggris sebagai bahasa kedua.
Sementara kita yang memiliki beragam perbedaan budaya dan etnis meninggalkannya
demi menerima perubahan budaya asing ke dalam kultur kita. Aku termangu.   

Aku jadi teringat dengan
percakapanku denganmu malam itu di teras sekolah Alkitabmu. Mau tahu pendapatku
tentang konsep “mandat budayamu” hari itu? Aku mau bertanya dan semoga kamu
menjawabnya tanpa ayat Alkitab: “Dengan
apa Kristus dimuliakan bila tepuk tangan penonton cuma diarahkan kepada lenggokan
badanmu, lirikan genit matamu, kostum panggung (aku keberatan disebut baju atau
pakaian) yang seronok dan sangat minim plus seksi sekali…yang kamu pakai tiap
kali kamu naik pentas?
” 

Jika kamu bisa memberiku jawaban
yang masuk akal tanpa satu ayat pun, aku menerimanya! Untuk siapa saja yang
percaya kepada pentingnya “mandat budaya” itu ada, aku mau bertanya: “Apakah
Yesus tampak keren untuk kamu yang hidup di jaman ini? Lihat cara berpakaiannya!
Pelajari cara penginjilanNya yang diakui telah mengubah hidup banyak
orang….bahkan membangkitkan orang mati! Ia memulai pelayananNya dari gurun
dengan berpuasa 40 hari 40 malam tidak makan dan tidak minum! Ia menaiki
keledai pinjaman—bukan milik pribadi—untuk memasuki Yerusalem dan dielu-elukan
oleh semua orang! Sebuah kesederhanaan yang lahir dari Sosok hebat Yesus!”

Aku menentang “mandat budaya”
yang menganggap modernisasi berlebihan sebagai “fun” untuk wajah gereja kita hari ini! Tahukah kamu, seorang
pendeta yang melayani konseling pernikahan di salah satu gereja terbesar di Surabaya pernah jatuh
dalam dosa karena “pakaian minim” yang dikenakan konselinya? Tahukah kamu,
seorang worship leader pernah
tertangkap basah tidur dengan seorang singer
gereja karena “pakaian minim” yang dikenakan oleh singer wanita tersebut ketika
pelayanan di gereja? Tahukah kamu, seorang pelayan PAW di gereja yang sama,
terpaksa harus meninggalkan bangku SMUnya dan menikah dalam usia muda karena
jatuh dalam dosa ketika melihat kakak pelayan anaknya begitu seksi pakaiannya? Apakah
tidak ada yang pernah bertanya mengapa kalian harus pakai seragam ketika
pelayanan?! Gereja mengharuskannya dengan maksud untuk menghindari kesan
eksklusif dan beda. Juga untuk menghindari kesan “minim” dan “penuh jendela”
yang mengintip di mana-mana! Salut buat yang mau tampil beda dengan cara bijak!

Surabaya, 4 Juni 2008

Ditulis pk. 05.00 am-07.59 am

 

 

 

 

Ketika cinta tak bisa diprediksi

April 10th, 2008 by theword

“Ne, aku mau menikah…”
Suaranya mendesah di telingaku.
Aku tahu dia sangat menginginkannya.
“Kapan?” tanyaku penasaran.
Ia tertawa. Sepertinya itu tawa
terbaik yang keluar dari hatinya yang terdalam. Terkesan bahagia. Aku mendesah
pendek dan menutup diktatku perlahan. Aku mengambil pena dan mulai menulis
puisi perpisahanku untuknya, sementara perempuan yang kuajak bicara di seberang
sana …tak
kunjung berhenti mendesah.

“Des, kapan? Aku pasti datang!”
Ia berhenti mendesah.
“19 Januari.”
Aku terbatuk karena kaget.
“Apa?!”
Ia tertawa sekarang. Entah
mengapa aku membenci tawanya.
“Ne, kita berdua sudah yakin kok.
Untuk apa menunggu lebih lama lagi?” jelasnya ringan, seolah tanpa beban.
Aku terdiam sesaat. Kalau mau
dipikir dengan logika, itu aneh! Mana mungkin secepat itu? Itu berarti tahun
depan dan….tunggu sebentar…
“Des…”
“Ya?”
Aku mengetuk meja belajarku
dengan gelisah.

“Aku ujian skripsi.”
Ia terbahak. Aku bingung mau
berkata apa lagi kepadanya…cinta tak membuat ia memahami kata-kataku.
“Oh ya? Baguslah! Kalau begitu,
selamat berjuang! Kamu harus lulus ya, Ne!” katanya bersemangat.

Dasar bodoh! Aku tidak minta
dukungannya, tetapi memberitahunya kalau tanggal itu aku ujian skripsi! Ah,
cinta memang membuat wanita sepintar apapun tampak bodoh!

“Des! Tanggal 19 Januari itu aku
ujian skripsi! Tidak bisa diundur?”
Ia terdiam. Hening tercipta
sekian detik. Kemudian…Klik! Astaga! Ia mematikan teleponnya! Dasar bodoh!
Bagaimana sih? Aku kesal kepadanya, kepada pacarnya dan waktu yang tak mau
kompromi. Ah, sudahlah…mungkin memang harus begitu jalannya. Itu berarti, mulai
19 Januari tahun depan…aku tak punya teman untuk bicara dan berbagi hidup. Ya,
aku tak bisa melawan takdir. Semua perempuan pada dasarnya bukan cuma ingin
dicintai, tetapi dinikahi. Jadi, kuterima takdirku!

Waktu berlalu. Aku lupa kalau ia
akan menikah 19 Januari itu. Ketika waktunya tiba, aku sedang memperjuangkan
skripsiku yang ternyata dibantai habis oleh dewan pengujinya. Ah, aku benci
arogansi akademik! Tetapi, aku diwajibkan untuk melewatinya…maka kulewatkan
setengah dari hariku waktu itu untuk berdebat hal yang sia-sia. Lebih
menyebalkan lagi ketika aku tahu, salah satu teman perempuanku mendapatkan
nilai A plus untuk skripsinya yang jauh dari bagus! Ia tidur dengan dosen
pengujinya! Astaga!

Aku baru menyadari bahwa hari itu
adalah hari pernikahan sahabatku, ketika aku diberitahu temanku. Aku tersentak
karena tahu waktunya sudah hampir habis untuk menghadiri prosesi pernikahannya
di gereja. Aku mengacuhkan basa-basi dosen pengujiku (toh berbasa-basi
dengannya tidak menambah nilai apapun di dalam hidupku!!) dan melesat ke
gereja. Aku heran karena tak mendengar suara apapun dari dalam.

Tak ada lagu, tak ada denting
piano. Aku membuka pintu geser ruang ibadah utamanya dan melongokkan kepalaku
ke dalam. Aku kaget melihatnya di sana. Berdiri dengan anggun dalam balutan gaun pengantin. Ia tampak cantik sekali. Ia
tampak gelisah dan tak sabar menunggu. Air mata menggantung di sudut matanya.
Jari-jari lentiknya memegang erat-erat buket bunga pernikahannya…dengan
gemetar.

Ada apa? Aku menghampirinya dan berbisik.
“Des? Aku terlambat. Maaf.”
Ia menggeleng lemah dan air
matanya jatuh. Aku tersentak. Mengapa ia menangis?
“Dia terlambat, Ne.”
Aku menggeleng lemah.
“Aku yang terlambat datang.
Maaf.”
Ia tertawa sumbang.
“Ne, aku….aku….”
“Ada apa?”

Ia menangis sesenggukan. Aku
bingung. Aku melihat orang-orang berbisik. Menertawakan, mengejek dan
mengomentari peristiwa itu. Aku terdiam karena tak tahu harus memeluknya atau
membiarkannya menangis. Aku melihat pendeta keluar dari gereja. Satu per satu
undangan beranjak pulang. Tinggal Desi dan aku di depan altar gereja. Berdiri
mematung seperti orang bodoh. Aku benci kejadian itu! Benci kepada lelaki itu!
Lelaki yang meninggalkan perempuannya di altar gereja! Aku menatapnya dan
berbisik.

“Des…berhenti menangis. Ayo,
pulang.” 

Tak ada pernikahan hari itu. Ia
dan aku sampai hari ini masih sendirian. Ia mencari cinta sejatinya, sedangkan
aku sudah bosan mencari. Aku percaya kepada kesejatian cinta, tetapi sulit
percaya kepada cinta sejati pria. Apalagi ketika aku mendengar enam bulan
kemudian lelaki itu menikah dengan wanita lain. Seandainya kamu mengijinkan aku
menghajarnya, Des! Dengan senang hati akan kulakukan! Ia layak dipermalukan di
hari pernikahannya dengan perempuan itu. Tetapi, karena kamu menerima
takdirmu…aku tak bisa menyeretnya untuk menikahimu.

Tahun berganti. Kita tak bersama
lagi. Aku di sini, kamu entah di mana. Aku malas menerima sms atau teleponmu.
Bosan dengan semua ketidakberdayaanmu! Aku memutuskan untuk berjalan sendiri,
memilih alur kisah hidupku dan melawan takdirku. Aku tak mau menjadi perempuan
yang menunggu dinikahi oleh lelaki! Aku benci! Aku mau menjadi perempuan yang
dicintai sepenuh hati! Karena itu aku terjebak dalam ilusi tak berujung tentang
idealisme seorang lelaki di pikiranku. 

Tetapi….maafkan aku. Aku
menikmatinya. Sekalipun aneh bagi sebagian besar orang, aku tetap memilih untuk
hidup dengan prinsipku. Karena itulah aku masih sendiri. Aku mencari kesejatian
cinta, yang menawarkan kesamaan hak bicara dan memutuskan di dalam sebuah
hubungan. Aku ingin didengar ketika bicara dan tidak diperintah seperti
layaknya pembantu! Aku tak mau dipajang sebagai “boneka” di lemari kaca, yang
hanya dikeluarkan dari lemari kaca sewaktu dibutuhkan.

Aku tidak mau “dipakai” di tempat
tidur ketika malam hari dan ditempatkan di dapur pada pagi hari! Aku benci! Itu
sebabnya aku berhenti mencari cinta sejati. Aku mencari kesejatian cinta. Kalau
ada sedikit mujizat untukku…aku akan menemukan di mana lelakiku berada.

 When love unpredictable…..

 

 

Surat biasa dari saya untuk seorang mantan Kristen!

March 26th, 2008 by theword

Surabaya, 26 Maret 2008
Kepada yth.
Sdr. Timotius Sanyoto

Hi, bro! Apakah Anda benar-benar Kristen? Saya meragukannya! Dan saya tidak perlu minta maaf untuk keraguan saya akan kekristenan Anda tersebut. Saya yakin 100% Anda bukan Kristen! Karena arti Kristen sendiri adalah pengikut Kristus, dan saya jamin Anda bukan pengikut Kristus! Kalau Anda merasa atau mengaku beragama kristen, itu baru benar! Sama dengan Yudas yang mengaku murid Yesus tetapi menyalibkan Yesus! Jadi, saya anggap saja Anda salah satu Yudas abad ini (itu istilah saya untuk murid Yesus yang tidak jelas itu! Saya tahu Anda sama tak jelasnya dengan “beliau” itu! Hehehehe….).

Sebelum saya menjawab keraguan Anda (maaf saya tidak ingin terjebak dalam pertanyaan Anda yang sebenarnya tidak perlu ada itu!), saya ingin memperkenalkan diri dulu kepada Anda. Karena saya tidak ingin menjadi “bayangan” yang tak jelas, yang menusuk orang dari belakang (kata lainnya “pengecut”), bersuara keras seolah-olah benar—padahal hanya untuk menunjukkan rasa sakit yang belum selesai dari masa lalu seseorang karena perlakuan gereja atau ketidak percayaan kepada Yesus Kristus—dan bersembunyi di balik kedok kekristenan dengan memakai nama Kristen! Itu nama baptis? Seharusnya nama Timotius itu tidak tepat untuk Anda. Uhmmm…Yudas Sanyoto lebih tepat! Lebih mewakili diri Anda dan pandangan keliru Anda tentang Yesus….Hehehehehe….(kalau Anda marah, berarti saya benar!)
Oh ya, kita kenalan dulu yah! Nama saya tidak penting, karena mungkin Anda juga tidak akan ingat. Hehehehe….tetapi saya adalah penulis sekaligus editor. Jadi saya bekerja selama 9 tahun di media gereja. Saya pun mengalami pengalaman yang tak menyenangkan dengan gereja dan orang-orang Kristen di dalamnya ketika Ayah dan adik saya meninggal beberapa tahun lalu. Mereka berpikir Tuhan menghukum keluarga kami. Saya tahu intisari kekristenan adalah mengampuni dan mengasihi. Karena saya adalah murid Yesus, seperti Yesus mengampuni dosa saya—dan dosa Anda juga—saya mengampuni semua perkataan mereka yang melukai hati kami dan mengasihi mereka.

Jika Anda belum berdamai dengan masa lalu Anda, Anda tidak layak disebut Kristen! Itu sebabnya saya berani menjamin Anda bukan Kristen. Oke, itu saja. Saya tidak mau menjawab keraguan Anda—kepada kekristenan yang Anda sangkali hari ini—karena ‘toh tidak mengubah cara berpikir Anda yang sudah terlanjur tertanam di kepala Anda dan menganggapnya benar. Jadi, saya cuma mau menata bahasa Anda dan meluruskan beberapa kalimat tanya yang salah. Karena saya editor bahasa yang baik, saya yakin sekali dapat membantu Anda melontarkan pertanyaan—atau lebih tepatnya kritik—dengan cara yang benar dan lebih baik. Mari kita mulai dengan pertanyaan nomor satu (harus berurutan ‘kan? Karena kalau tidak, saya kuatir Anda tambah marah dan sakit hati kepada saya….hehehehe…).    

Pertanyaan yang perlu di renungkan…
·    Koreksi saya atas kalimat di atas: Pertanyaan tidak perlu direnungkan!! Yang perlu direnungkan adalah firman Tuhan!! Anda dan saya perlu merenungkannya siang dan malam! Kalau Anda memang Kristen, pasti Anda tahu ayatnya di mana…).

1. Mana Pengakuan Yesus didalam Al-Kitab bahwa dia beragama Kristen?
Jika bisa terjawab, bahwa dalam Al-Kitab memang ada dalil yang mendukung, anda berhak mendapat hadiah Rp.300.000,00

Koreksi saya atas kalimat di atas: Di jaman Yesus dulu hidup semua firman Tuhan ditulis dalam perkamen-perkamen dan tidak disebut sebagai Al-Kitab! Al-Kitab adalah bahasa arab yang berarti “kumpulan kitab”, karena memang kita yang mengumpulkan kitab-kitab itu menjadi satu dengan tujuan mempermudah umat untuk membaca dan memiliki semua kitab secara utuh!! 
Koreksi saya atas pertanyaan Anda: nama Kristen baru digunakan atau lebih tepatnya dikenalkan justru setelah Yesus Kristus mati dan bangkit (kemudian naik ke Surga). Lebih tepatnya, orang-orang di jaman rasul-rasul hidup dulu yang menjuluki pengikut Kristus di Antiokhia sebagai “KRISTEN”, sebagai ejekan kepada para pengikut Yesus. Pertanyaan saya agak ekstrem kepada Anda: “Jika Yesus Kristus secara tubuh manusia tidak ada di bumi waktu itu—karena Ia sudah naik ke Sorga—apakah menurut Anda perlu dan penting Ia mengaku dirinya sebagai pengikut Kristus yang notabene adalah diriNya sendiri, sehingga Al-kitab yang lahir ribuan tahun kemudian harus mencatat pengakuanNya?” Anda yang bodoh atau memang tidak tahu sejarah? Lucu banget, kalau seorang Dalai Lama mengaku dirinya pengikut Dalai Lama! Yang benar adalah murid-murid Dalai Lama yang mengaku dirinya pengikut Dalai Lama! Bukankah begitu yang benar? (kalau tidak percaya, coba tanya ke Dalai Lama! Ia pasti berkata bahwa ia pengikut Budha tanpa harus mendengar Budha mengaku dirinya sendiri sebagai pengikut Budha—yang notabene adalah dirinya sendiri!)

2.Mana ajaran Yesus Ketika berumur 13 tahun sampai 29 tahun?
Jika bisa terjawab, bahwa dalam Al-Kitab memang ada dalil yang mendukung, anda berhak mendapat hadiah Rp.800.000,00

Koreksi saya atas kalimat di atas: Yesus Kristus belajar bagaimana caranya menjadi “anak” kepada ayahnya atau lebih tepatnya berbakti kepada orangtuanya. Sesungguhnya itu lebih berharga daripada berdiri dengan kharisma tak tertandingi di hadapan ribuan orang tetapi hidup dan karakternya tak berbicara apa-apa bagi keluarganya! (apakah Anda mau dipimpin oleh orang yang pintar bicara dan berkharisma dengan pengajaran luar biasa, tetapi hidupnya dan keluarganya tak berbicara apa-apa bagi Anda atau keluarganya??!!)

Tambahan dari saya (anggap saja reminder…hehehe..): Yesus pada saat Ia berumur 12 tahun mengajar di Bait Allah. Semua orang yang mendengar ajaranNya takjub dan bertanya dari mana pengetahuanNya itu berasal karena Ia masih belia.
Pertanyaan saya kepada Anda: “Apakah Anda mau diajar tentang bagaimana caranya hidup kudus dan berjalan bersama Allah oleh anak berusia 13 tahun-ke atas?” (Saya jamin Anda tidak mau dan keberatan sekali!)   

3.Pernahkah Yesus mengatakan, AKULAH ALLAH TUHANMU, MAKA SEMBAHLAH AKU SAJA", Silahkan cari (tentu saja di injil) ini berhadiah. Rp.950.000,00
* Koreksi saya atas kalimat di atas: Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku (Yoh. 14.6).

Pertanyaan saya kepada Anda: Yang memiliki hidup dan matinya Anda dan saya itu siapa? Kalau jawaban Anda sama dengan saya, yaitu TUHAN, itu berarti pertanyaan Anda otomatis sudah terjawab!! Kata “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup” sudah menggambarkan kekuasaan tak tertandingi dan tak terbantahkan—kecuali Anda keras kepala dan merasa benar sendiri—dari Yesus Kristus yang notabene adalah Tuhan. Penegasan kalimat berikutnya dari ayat tersebut, yaitu “Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku”, itu pernyataan bahwa Anda akan dibenarkan dari dosa karena IA atau Yesus adalah Kebenaran itu sendiri; dan Ia dalah Pemilik hidup dari tiap orang yang bernyawa/bernafas; dan satu-satunya Jalan kepada Bapa (yang notabene adalah diriNya sendiri sebagai Tuhan). Karena itu otomatis perintahnya adalah “Sembahlah Tuhan Yesus saja karena hanya Ia-lah Jalan menuju kepada BAPA.

Jawabannya bukan pernah atau tidak pernah, karena sudah terjawab jika saja Anda mengimani dan meyakini Yoh. 14.6 itu sebagai suatu KEBENARAN dari Tuhan Yesus sendiri.   

4.Pernahkah Yesus mengatakan, "Akulah yang mewahyukan Alkitab, dan aku pula yang akan menjaganya"
Kenapa saya tanya demikian? Karena semua kaum nasrani percaya injil itu dari firman Tuhan, artinya 100% benar. Jadi sudah sewajarnya Tuhan memberi garansi. (Tapi ternyata ada juga versi revisi) ini berhadiah Rp.1.100.000,00.

Koreksi saya atas pertanyaan Anda di atas: Al-kitab itu bahasa Arab, Pak! Berapa kali saya harus menjelaskan bahwa itu bahasa Arab? Atau memang Anda sekadar “mengeritik” tanpa tahu sejarahnya? Mau cari popularitas atau kebenaran atas pendapat pribadi? Astaga! Teman saya dari Turkey—dia muslim asli—saja tahu beda antara Injil (Matius, Markus, Lukas dan Yohanes) yang ditulis dengan bahasa Yunani dengan Al-kitab yang diambil dari bahasa Arab yang berarti kumpulan Kitab!! Tuhan Yesus tidak perlu belajar dan mewahyukan apapun dalam Kitab apapun! Karena pewahyuan itu berasal dariNya dan berawal dariNya! Al-kitab atau Injil (terserah Anda deh!) dibuat sebagai penuntun untuk hidup benar bagi manusia. Karena itu disebut firman Tuhan. Yang menulis juga manusia yang punya keterbatasan sama dengan Anda, dalam arti bisa salah kata, salah bicara, salah tanda baca dan salah pikir! Namanya juga manusia, punya asumsi dan opini sendiri-sendiri! Apalagi untuk orang-orang keras kepala seperti Anda dan saya ini! Hahahahaha….Itu berarti, kita yang menjaganya sebagai pewahyuan dari Tuhan sendiri, karena yang butuh tuntunan ‘kan kita, Pak! Bukan Tuhan Yesus!

5. MANA PERINTAH YESUS (ATAU TUHAN) UNTUK BERIBADAH PADA HARI MINGGU?
Ini cukup seru, kenapa saya tanya begitu? karena yesus sama sekali tidak mengkuduskan hari minggu! baca Lukas 4:15, "….dan menurut kebiasannya pada hari Sabat(sabtu) ia masuk kerumah ibadat lalu berdiri hendak membaca dari alkitab" Markus 1:21, Markus 6:2, Lukas 4:16,31, Lukas 6:6, Lukas 13:10, disana yang di kuduskan Yesus semua hari sabat, minggu? Tidak ada. baca juga, Yesaya 58:13-14… smuanya itu mengkuduskan hari sabat, minggu? tidak ada.. semua hanya ‘anggapan’ para petinggi kristiani saja dalam merubah tata cara ibadah.. dan di loloskan menjadi sebuah ‘tata cara ibadah’ yang berlaku.
jika tidak demikian, tentunya tiadak akan ada saudara kirstiani advent yang ‘memisahkan diri’.
Untuk pertanyaan ini ada hadiah Rp.1.900.000,00 bagi yang menemukan perintah dalam Injil supaya beribadah hari minggu.

Koreksi saya atas pertanyaan Anda di atas: Arti kata “Sabat” adalah hari perhentian untuk mengingat masa di mana Tuhan beristirahat pada hari ketujuh setelah Ia bekerja selama 6 hari menciptakan alam semesta dan seisinya. Jadi, bukan berarti hari Sabtu atau hari Minggu. Bergantung kepada hari pertama Anda mulai bekerja. Jika Anda mulai bekerja pada hari Senin seperti kebanyakan orang Indonesia—kecuali kalau Anda berasal dari planet lain—maka hari Sabat jatuh pada hari Minggu. Kalau Sabat dimasukkan sebagai liturgi, saya kok jadi ingin tertawa yah! Apa sih arti “Liturgi” di mata Bapak sebenarnya? Liturgi adalah tata cara ibadah yang dipakai atau digunakan untuk memperlancar atau menertibkan ibadah itu sendiri. Jadi tidak ada hubungannya dengan Sabatical atau Sabat. Karena justru seharusnya kita beristirahat, tidak bekerja. Di Israel, setiap hari Sabat, mereka menghormatinya dengan tidak bekerja atau melakukan kegiatan apapun! Itu yang benar! Kalau kita masukkan di bagian tata cara ibadah….kok menggelikan sekali rasanya yah! Hehehehe…

Bagi gereja yang hidup di hari ini, Sabat adalah saat yang tepat untuk refresh a soul to God atau menyegarkan jiwa kepada Tuhan. Karena itu ada liturgi yang mengatur jam ibadah, khotbah, pujian dan penyembahan dan cara berdoa di dalam gereja, yang diatur dengan jam. Tak heran kalau kebanyakan gereja di luar negeri, mereka cuma beribadah satu jam saja, tidak seperti kita yang bisa dua jam sampai enam jam. Hehehe…karena tujuannya hanya untuk mengistirahatkan jiwa kepada Tuhan.   
Sekadar info saja kalau Anda tidak tahu: Sekarang banyak gereja yang menyelenggarakan ibadah tengah minggu, yaitu hari Rabu atau Jumat. Cuma namanya bukan gereja, tetapi Persekutuan DOA. Just check it, kalau tidak percaya!

6. Mana dalil asal percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juru selamat dijamin pasti masuk surga?! kenapa muncul pertanyaan seperti itu? Nasrani sangat percaya (tanpa dasar) asal percaya Yesus maka pasti masuk surga. Dalam islam tidak dikenal hal yang memastikan seperti itu, tapi harus mengucap Insya Allah artinya: Jikalau Allah menghendaki…
coba lihat ayat ini: Yak 4:13-17 "Jadi sekarang hai kamu yang berkata: "Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu dan disana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung", sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. sebenarnya kamu harus berkata: "Jika tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu". Tapi sekarang kamu memegahkan diri dengan congkakmu, dan semua kemegahan yang demikian adalah salah. Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tapi ia tidak melakukannya, ia berdosa."

Anda juga bisa baca sendiri di-Injil… (Kis 18:21),(1 Kor 4:19) semua memuat kata Jika Tuhan Menghendaki, Jika Allah menghendaki, dan Kalau Tuhan menghendaki, semua sama dengan insya Allah. Kesimpulannya dari dalil itu, bahkan ALKITAB SENDIRI MELARANG UMATNYA DALAM MEMASTIKAN HAL-HAL YANG BELUM DIKETAHUI! (termasuk, yesus yang tidak TAHU PASTI kapan kiamat/hari akhir itu tiba)

Lalu dengan tiba-tiba ada ‘kredo’ umat Nasrani, jika percaya Yesus pasti masuk surga? Jadi apa yang tertulis pd dalil diatas diacuhkan? sudah pasti! APA ADA DALIL SEPERTI ITU? Pertanyaan ini diganjar dengan hadiah. Rp.2.500.000,00.
PS: ada yang punya alkitab lama cetakan tahun 1960? dalam Kis 18:21, 1Kor 4:19 terang-terang di cetak kata-kata INSYA ALLAH. Dan sekarang bisa dilihat… apakah dalam injil cetakan terbaru, ada?–> mungkin ini maslah translasi bahasa saja, masalah kebiasaan teman-teman kristiani yang sudah sangat familier dengan term islam, seperti Kata: Allah, dan Insya Allah ini.

Koreksi saya atas pernyataan Anda: Setahu saya Perjanjian Lama ditulis dalam bahasa Ibrani dan Perjanjian Baru ditulis dalam Bahasa Yunani. Jadi, saya pastikan kalimat aslinya (dalam arti yang benar-benar asli dari sononya…) tidak pernah ada kata “Insya Allah!”. Kalau ada, itu pasti Al-Kitab terjemahan untuk bahasa setempat, seperti Al-Kitab dalam Bahasa Madura yang saya miliki hari ini (saya orang madura, Pak!). Di sana dipakai kata tersebut untuk tujuan mempermudah atau lebih “familiar” atau enak didengar oleh telinga. Kalau di Holy Bible versi King James yang saya pegang hari ini (dalam bahasa Inggris), tidak disebutkan kata “Insya Allah” sama sekali! Dengan demikian, ada atau tidak…itu cuma masalah bahasa! (untuk apa diperdebatkan? Tidak penting, Pak!)

Mengenai pertanyaan yang paling atas yaitu tentang jaminan masuk Sorga dari Tuhan Yesus jika kita percaya kepadaNya, saya juga punya pertanyaan yang sama kepada Anda. Pertanyaan saya: “Apa yang membuat Anda yakin kalau Anda tidak menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat Anda secara pribadi, Anda pasti masuk Sorga? Dan apa yang membuat Anda tidak yakin  jika Anda percaya kepadaNya, Anda dijamin masuk Sorga?” (Saya jadi heran dengan keraguan Anda yang begitu besar akan ke-Kristenan, Anda menjadi Kristen dengan memakai nama baptis TIMOTIUS! Maaf, menggelikan sekali buat saya….hehehehe…).

7. kursial, 25 desember itu buat apa? merayakan kelahiran Yesus? ada dalilnya? trus ada perintah merayakannya? tolong…cari dalilnya. Ada hadiah Rp.2.900.000,00

·    Koreksi dari saya untuk ketidaktahuan Anda: Yang satu ini tidak butuh dalil atau pembuktian karena yang terbukti salah adalah PERATURAN PEMERINTAH!! Hahahahaha…Pdt. Samuel Doctorian dari Palestina berkhotbah dengan tema Natal dan merayakan Natal dari bulan Oktober sampai February akhir di seluruh dunia—kecuali Indonesia!!
·    Anda tidak perlu merayakannya kalau Anda tidak mau atau keberatan!! Untuk apa dipertanyakan?Bukankah jawabannya sudah jelas, yaitu ANDA MERASA TIDAK PERLU MERAYAKANNYA KARENA TIDAK TAHU MAKNA DAN ARTI NATAL BAGI HIDUP ANDA SENDIRI!!

Untuk semua koreksi yang saya berikan, BAPAK TIDAK PERLU MEMBAYAR APAPUN!! GRATIS!! Tetapi coba dengarkan saran saya ini: “Jangan pernah menjadi KRISTEN, jika Bapak tidak tahu artinya SALIB!” Semoga saran saya diterima. Kalau Anda bertanya mengapa, ini jawaban saya: “Saya lelah dan muak dengan asumsi, opini, pendapat pribadi yang didasari oleh kebencian pribadi dengan tujuan tertentu dan secara sadar memakai agama untuk kedok pembenaran diri!” Jadi…berkurang satu orang Kristen seperti Anda, saya pikir Sorga tidak rugi!

Ada beberapa pertanyaan terakhir yang saya simpen… dan hadiahnya cukup beli Escudo 00, Rp.75.000.000,00 ( Untuk yang satu ini, saya mau tanya: “ Ini pesan sponsor atau cuma bualan Bapak saja??!!)

Dari orang yang sedang belajar sabar hari ini,
Sianne